Francisco Guterres Dipastikan Jadi Presiden Ke-4 Timor Leste

Francisco Guterres Dipastikan Jadi Presiden Ke-4 Timor Leste
Francisco Guterres. (Foto: AFP)
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 22 Maret 2017 | 11:53 WIB

Dili - Francisco Guterres dipastikan menjadi presiden ke-4 Timor Leste setelah berhasil mengamankan 57,32 persen suara menurut hasil perhitungan tidak resmi pemilu presiden, Selasa (21/3).

Guterres, gerilyawan yang dikenal dengan nama Lu-Olo, berada di posisi tertinggi disusul pesaing terdekatnya, Menteri Pendidikan Antonio da Conceicao, yang meraih 32,24% suara.

Pemilu Timor Leste yang digelar pada Senin (20/3) diikuti oleh delapan calon presiden. Kemenangan Guterres kali ini tak terlepas dari dukungan pahlawan revolusioner Timor Leste, Xanana Gusmao, bersama partainya, CNRT, yang merupakan partai terbesar Timor Leste.

“Saya yakin tidak akan ada putaran kedua. Ini adalah keputusan para pemilih, dari rakyat. Perubahan akan terjadi dalam banyak aspek, dan secara fundamental, saya ingin mengubah kondisi masyarakat dalam kesehatan, pendidikan, dan memiliki ekonomi berkelanjutan untuk meningkatkan pembangunan nasional,” kata Guterres (62) yang juga didukung partainya, Fretilin, Selasa (21/3).

Gusmao merupakan tokoh perjuangan untuk kemerdekaan negaranya, termasuk pernah dipenjara di Jakarta sampai akhirnya dibebaskan pada 1999 saat kejatuhan mantan presiden Soeharto. Gusmao terpilih sebagai presiden Timor Leste pertama tahun 2002.

Guterres atau Lu-Olo hanya sedikit memainkan peran politik dibandingkan para pendahulunya, Gusmao, Jose Ramos Horta, dan presiden saat ini, Taur Matan Ruak. Ini kali ketiga Guterres maju dalam pemilu. Pada 2007, Guterres kalah melawan Jose Ramos Horta, kemudian dalam pemilu 2012, dia kembali kalah dari mantan komandan militer Taur Matan Ruak. Kemenangan Guterres menunjukkan bahwa “generasi perjuangan” Timor Leste masih memegang kekuasaan.

“Kita bukanlah sebuah negara sempurna, ini masih sangat awal. Itulah mengapa Anda harus percaya kepada Lu-Olo untuk menjaga bangsa tetap bersatu,” kata Gusmao.

“Ada pendapat bahwa para pemimpin muda yang harus terpilih, tapi bagi saya tidak,” tambahnya.







Sumber: Suara Pembaruan