Untuk Perangkat Nuklir, Korut Manfaatkan Kedubes Berlin

Untuk Perangkat Nuklir, Korut Manfaatkan Kedubes Berlin
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un (tengah) melihat perangkat logam di lokasi yang tidak diketahui. Korea Utara telah mengembangkan bom hidrogen yang dapat dimasukkan ke dalam rudal balistik antarbenua. (Foto: AFP)
Unggul Wirawan / WIR Senin, 5 Februari 2018 | 17:08 WIB

Berlin -Dinas intelijen domestik Jerman menyatakan Korea Utara (Korut) telah menggunakan kedutaan besarnya di Berlin untuk mendapatkan teknologi nuklir.
Secara diam-diam, Korut berulang kali membeli peralatan yang bisa digunakan untuk rudal balistik dan senjata nuklir dalam dua tahun terakhir.

"Kami menemukan kegiatan pengadaan yang dilakukan di sana, yang kami yakini terfokus pada program rudal, dan juga sampai tahap tertentu terkait program nuklir," kata Hans-Georg Maassen, kepala Bundesamt für Verfassungsschutz (BfV), atau Kantor Perlindungan Konstitusi.

Pengungkapan tersebut disampaikan oleh Maassen dalam wawancara dengan televisi NDR untuk satu laporan yang akan disiarkan secara penuh pada Senin (5/2).

"Ketika kami mendeteksi hal semacam ini, kami mengambil langkah untuk mencegahnya. Tapi kita tidak bisa menjamin bahwa kita bisa mendeteksi dan mencegah setiap kasus," kata Maassen kepada televisi Jerman.

Dalam ekstrak singkat yang dirilis sebelumnya, kepala intelijen tersebut menggambarkan bagaimana kedutaan Korut membeli teknologi "penggunaan ganda" yang dapat digunakan untuk tujuan sipil atau militer.

"Mereka diakuisisi di pasar lain atau perusahaan cabang digunakan untuk membelinya di Jerman," katanya.

Maassen tidak memastikan jenis materi yang dibeli kedutaan Korut untuk mendukung program nuklir atau misilnya. Namun dalam insiden terpisah pada tahun 2014, seorang diplomat Korea Utara diyakini telah mencoba untuk mendapatkan monitor multi-gas yang dapat digunakan untuk mengembangkan senjata kimia.

Seiring dengan Inggris, Jerman adalah satu dari segelintir negara Eropa untuk menjaga hubungan diplomatik dengan Korut. Jerman pernah menarik beberapa diplomatnya dari kedutaan besarnya di Pyongyang setelah tes rudal tahun lalu, dan telah meminta Korut mengurangi staf diplomatiknya di Berlin.

Kementerian luar negeri Jerman membantah laporan bahwa pihaknya berada di bawah tekanan AS untuk menutup kedutaan besarnya dan memutuskan hubungan diplomatik sama sekali dengan Korut pada tahun lalu. Namun juru bicara menambahkan, permintaan itu juga tidak berarti Jerman mengesampingkannya.



Sumber: Suara Pembaruan