Tiongkok Janjikan Bantuan US$ 60 Miliar ke Afrika

Tiongkok Janjikan Bantuan US$ 60 Miliar ke Afrika
Presiden Tiongkok, Xi Jinping (Foto: AFP/Nicolas Asfouri)
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 5 September 2018 | 08:10 WIB

Beijing- Presiden Tiongkok Xi Jinping menjanjikan US$ 60 miliar (sekitar Rp 880 triliun) dana bantuan keuangan kepada negara-negara Afrika. Dia juga berjanji untuk menghapus utang bagi negara-negara Afrika yang miskin.

Berbicara pada pembukaan pertemuan puncak utama dengan para pemimpin Afrika di Beijing pada Senin (3/9), Xi mengatakan jumlah bantuan itu termasuk US$ 15 miliar (sekitar Rp 220 triliun) dalam bentuk hibah, pinjaman bebas bunga dan pinjaman lunak, batas kredit US$ 20 miliar (sekitar Rp 293 triliun), US$ 10 miliar (Rp 146 triliun) untuk "pembiayaan pembangunan" dan US$ 5 miliar (sekitar Rp73 triliun) untuk membeli barang impor dari Afrika.

Menurut Xi, utang pemerintah dari pinjaman tanpa bunga Tiongkok yang jatuh tempo pada akhir 2018 akan dihapuskan bagi negara-negara Afrika yang miskin. Penghapusan itu juga berlaku bagi bagi negara-negara berkembang di negara-negara pedalaman dan pulau-pulau kecil di benua Afrika.

"Kerja sama Tiongkok-Afrika harus memberi orang-orang Tiongkok dan Afrika manfaat nyata dan keberhasilan yang dapat dilihat, yang dapat dirasakan," imbuhnya.

Xi mengatakan Tiongkok akan melaksanakan 50 proyek pembangunan hijau dan perlindungan lingkungan di Afrika, dengan fokus pada memerangi perubahan iklim, penggurunan, dan perlindungan satwa liar.

Tanpa memberikan rincian, Xi berjanji Tiongkok akan mengatur dana perdamaian dan keamanan dan forum terkait, sambil terus memberikan bantuan militer gratis kepada Uni Afrika.

“Perusahaan Tiongkok akan didorong untuk berinvestasi tidak kurang dari US$ 10 miliar di Afrika dalam tiga tahun ke depan,” tambahnya.

Penawaran lebih banyak dana datang setelah janji jumlah yang sama di Forum sebelumnya tentang Kerja Sama Tiongkok-Afrika (FOCAC) di Afrika Selatan, pada tiga tahun lalu.

Peran Afrika
Para pejabat Tiongkok mengatakan KTT 2018 akan memperkuat peran Afrika dalam inisiatif "Belt and Road" Xi, yang telah mendorong pinjaman miliaran dolar ke negara-negara di Asia dan Afrika untuk jalan, kereta api, pelabuhan dan proyek infrastruktur besar lainnya.

Setiap negara Afrika diwakili di forum bisnis terpisah dari eSwatini, sekutu Afrika terakhir yang diperintah-sendiri Taiwan yang sejauh ini menolak tawaran Tiongkok untuk meninggalkan Taipei dan mengakui Beijing.

Para pemimpin Afrika yang hadir termasuk Cyril Ramaphosa dari Afrika Selatan, Abdel Fattah el-Sisi di Mesir, Edgar Lungu dari Zambia dan Ali Bongo dari Gabon.

Ramafosa pun membela keterlibatan Tiongkok di benua Afrika.

“Saya tidak setuju bahwa ada kolonialisme baru sedang berlangsung di Afrika karena para pengkritik akan memercayai kami,” katanya.

Semua negara Afrika diwakili di pertemuan puncak Beijing, kecuali untuk kerajaan kecil eSwatini, sebelumnya dikenal sebagai Swaziland. Kerajaan kecil ini adalah satu-satunya negara Afrika yang mempertahankan hubungan diplomatik dengan Taiwan.Pemerintah Tiongkok tidak mengizinkan negara-negara memiliki hubungan resmi dengan Taiwan karena dianggap Beijing sebagai wilayahnya sendiri.



Sumber: Suara Pembaruan