Militer Taiwan Umumkan Latihan, Atasi Ancaman Tiongkok

Militer Taiwan Umumkan Latihan, Atasi Ancaman Tiongkok
Tentara taiwan menggelar latihan perang. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 10 Januari 2019 | 19:23 WIB

Taipei- Militer Taiwan mengumumkan serangkaian latihan militer terbaru berskala besar untuk tahun ini dalam rangka mengatasi ancaman Tiongkok yang ingin memakai kekuatan dalam mengambil alih kepulauan tersebut.

Angkatan bersenjata Taiwan secara rutin menggelar latihan-latihan semacam itu, tapi latihan tahun ini disusun berdasarkan taktik yang baru diadopsi untuk melawan invasi Tiongkok.

Hal itu disampaikan oleh Kantor Berita Pusat Taiwan dengan mengutip rencana dari Kepala Kementerian Pertahanan Mayjen Yeh Kuo-hui. Tiongkok sampai saat ini masih mengakui kedaulatan atas pulau yang memiliki pemerintahan sendiri. Taiwan terpisah dari Tiongkok dalam perang sipil tahun 1949.

Presiden Tiongkok Xi Jinping memperbarui ancaman kekuatan lewat pesannya pada 2 Januari 2019 lalu. Xi mengatakan Tiongkok memiliki hak, jika perlu, untuk melawan campur tangan oleh pasukan eksternal dan yang disebutnya sebagai sejumlah kecil separatis Taiwan.

Meskipun Xi tidak menyebutkan Amerika Serikat (AS) secara eksplisit, Washington saat ini adalah pemasok utama persenjataan ke Taiwan dan secara hukum terikat untuk merespons ancaman terhadap Taiwan.

Taiwan memiliki tiga juga anggota angkatan bersenjata dan berada di peringat kedua terbesar anggaran pengeluaran pertahanannya yaitu US$ 173 miliar (Rp 2.435 triliun). Xi juga telah meningkatkan ancaman militernya untuk menekan presiden Taiwan saat ini yang pro-kemerdekaan, Tsai Ing-wen.

Tsai menanggapi pidato Xi dengan menolak permintaan untuk unifikasi antara kedua belah pihak. Dia menyebut, Tiongkok harus menghadapi fakta keberadaan Taiwan.

Taiwan sendiri memiliki kekuatan jauh lebih kecil dari tekonologi canggih untuk menahan serangan Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, strategi Taiwan telah berevolusi dari mengalahkan pasukan darat Tiongkok menjadi invasi ke laut dan udara.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE