Meski ISIS Kalah, Singapura Masih Terancam Terorisme

Meski ISIS Kalah, Singapura Masih Terancam Terorisme
Polisi Singapura dari kontingen polisi Gurkha berjaga saat KTT Dialog Shangri-La. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 24 Januari 2019 | 08:34 WIB

Singapura-Ancaman terorisme di Singapura masih tinggi termasuk yang paling besar datang dari Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), meskipun kelompok itu telah menderita kekalahan di kedua negara asalnya.

Berdasarkan Laporan Penilaian Ancaman Terorisme Singapura tahun 2019 yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri (MHA), Rabu (22/1), menegaskan bahwa ISIS tetap tertarik di kawasan dan terus menggambarkan Asia Tenggara sebagai bagian dari kekhalifahan global.

Laporan itu muncul setelah versi perdananya pada 2017. Tujuannya untuk memberikan pemahaman dan apresiasi lebih baik atas ancaman terorisme dan mendorong rakyat Singapura agar waspada dan menyiapkan diri lebih baik.

“Meskipun ISIS telah menderita kekalahan wilayah yang besar di Irak dan Suriah, ideologinya tetap ganas ada di media maya dan terus menarik dukungan di Singapura, kawasan, dan sekitarnya,” sebut laporan itu.

Sejauh ini tidak ada intelijen yang kredibel atau spesifik dari serangan yang direncanakan terhadap Singapura sejak laporan 2017. MHA menyatakan lewat laporan itu terus mendeteksi warga Singapura dan warga asing yang bekerja di negaranya yang menjadi teradikalisasi oleh propaganda teroris.

“Tidak bisa mengesampingkan kemungkinan serangan. Setalah semuanya, Singapura menjadi target pada 2016 oleh dua rencana ISIS,” tambah laporan itu.

Seperti negara lainnya, Singapura menghadapi resiko “aktor tunggal” mengalami radikalisasi sendirian. Selama dua tahun terakhir, delapan individu, termasuk dua perempuan dan satu pemuda, telah ditangani di bawah Undang-undang Keamanan Dalam Negeri (Internal Security Act/ISA).

Dari kasus-kasus itu, tiga diantaranya, tidak terkait ISIS, karena individu-individu itu dipengaruhi oleh retorika teroris lainnya dan ingin berpartisipasi dalam kekerasan bersenjata di zona konflik.

Satu orang yang saat ini ditahan di bawah ISA disebutkan terpengaruh oleh pengajaran radikalisme secara online dan berbcara dengan dua temannya terkait rencananya mengambil bagian dalam kekerasan bersenjata di luar negeri. Kedua temannya dan anggota keluarganya berusaha untuk mencegahnya, akhirnya seseorang yang mengetahui rencana individu itu melaporkan kepada otoritas.



Sumber: Suara Pembaruan