Sierra Leone Berlakukan Darurat Pemerkosaan

Sierra Leone Berlakukan Darurat Pemerkosaan
Ilustrasi kekerasan pada anak ( Foto: Istimewa )
Unggul Wirawan / JAI Senin, 11 Februari 2019 | 14:49 WIB

Freetown, Beritasatu.com - Pemerintah Sierra Leone, Afrika, memberlakukan keadaan darurat pemerkosaan dan kekerasan seksual. Selama setahun terakhir, kasus perkosaan dan kekerasan seksual di negara itu, melonjak dua kali lipat. 

Presiden Sierra Leone, Julius Maada Bio, mengumumkan keadaan darurat di tengah protes publik atas masalah tersebut yang dipicu oleh serangkaian serangan besar-besaran.

Pengumuman itu disampaikan Julius Maada Bio, pekan lalu, setelah mendengar kesaksian dari orang yang selamat Ebola yang telah berulang kali diperkosa.

Aktivis mengatakan banyak serangan seksual tidak dihukum berdasarkan undang-undang saat ini. Lebih dari 8.500 kasus serangan seksual tercatat tahun lalu di negara berpenduduk 7,5 juta orang ini. Kenaikan hampir 4.000 pada angka dari tahun sebelumnya.

Mendengar laporan itu, Julius Maada Bio menegaskan, serangan terhadap anak di bawah umur yang merupakan sepertiga dari semua kasus, akan dijatuhi hukuman seumur hidup.

“Semua pelaku akan ditindak tegas, terutama bagi mereka yang melakukan pemerkosaan dengan efek langsung, penetrasi seksual anak di bawah umur, dapat dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup,” kata Julius Maada Bio.

Selain itu, pemerintah juga membentuk divisi kepolisian khusus untuk menyelidiki laporan-laporan tentang kekerasan seksual, serta pengadilan khusus hakim yang akan mempercepat kasus-kasus.

Deklarasi keadaan darurat berarti sumber daya negara akan lebih siap dialihkan untuk mengatasi kekerasan seksual. Langkah itu memungkinkan presiden untuk melewati parlemen, yang biasanya akan diminta untuk menyetujui perubahan undang-undang.

Perkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya tersebar luas selama perang saudara Sierra Leone antara tahun 1991 dan 2002.

Kemarahan telah meningkat karena kekerasan seksual terhadap perempuan setelah serangkaian kasus sosok terkenal, termasuk kasus seorang gadis berusia lima tahun yang lumpuh sebagian tubuhnya setelah diserang oleh pamannya.

Aktivis mengatakan beberapa kasus telah dilaporkan dan berhasil dituntut. Namun hukuman yang direkomendasikan untuk pemerkosaan yakni lima sampai 15 tahun penjara, sering tidak dijatuhkan. Tahun lalu, seorang pria berusia 56 tahun yang memperkosa seorang gadis berusia enam tahun dan dia hanya dihukum satu tahun penjara.

Kepada BBC, Fatmata Sorie, presiden satu kelompok pengacara yang semuanya perempuan yang bekerja dengan para korban kekerasan seksual, mengatakan bahwa deklarasi presiden itu seolah menyinari bak "cahaya yang sangat terang tentang masalah ini".

Namun, Sorie mengingatkan bahwa data tentang kekerasan seksual tidak lengkap karena hanya dikumpulkan dari beberapa pusat kota di seluruh negeri.

“Kami ingin jumlahnya turun, [dan] kami menginginkan situasi di mana data itu adalah data nasional, data berbasis dari kepala daerah," kata Fatmata Sorie.



Sumber: BBC/CNN/U-5