Bocorkan Data Ribuan Pengidap HIV, Warga AS Diburu Singapura

Bocorkan Data Ribuan Pengidap HIV, Warga AS Diburu Singapura
Kampanye anti-HIV/AIDS. ( Foto: Antara )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 12 Februari 2019 | 18:31 WIB

Singapura, Beritasatu.com - Singapura bertekad untuk menangkap dan mengadili seorang warga negara Amerika Serikat yang dituduh membocorkan data ribuan orang pengidap HIV yang dimiliki Kementerian Kesehatan.

Bulan lalu, Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan bahwa informasi rahasia tentang 14.200 orang yang didiagnosa mengidap virus penyebab AIDS itu telah bocor di internet. Sebagian besar nama itu adalah warga asing.

Tersangka pembocor adalah Mikhy Farrera Brochez, pengidap HIV yang pernah tinggal di Singapura. Dia diyakini mendapatkan data itu dari pasangannya, seorang dokter Singapura yang punya akses ke daftar pengidap HIV di kementerian.

Data yang bocor mencakup nama dan alamat pengidap HIV, dan telah menimbulkan kemarahan di kalangan komunitas LGBT dan LSM yang terlibat memerangi AIDS.

Dalam pernyataannya di parlemen, Selasa (12/2), Menteri Kesehatan Singapura Gan Kim Yong mengatakan perilisan data itu merupakan tindakan tidak bertanggung jawab dan otoritas Singapura akan melakukan semuanya untuk membawa tersangka kembali ke Singapura.

"Brochez saat ini masih diselidiki polisi karena berbagai pelanggaran," kata Gan.

"Kepolisian kita sudah menghubungi kepolisian Amerika dan meminta bantuan mereka untuk menyelidiki Brochez. Polisi akan menggunakan semua cara yang ada untuk membawa Brochez ke pengadilan."

Singapura dan Amerika Serikat memiliki perjanjian ekstradisi.

Brochez pernah dipenjara di Singapura pada 2016 karena berbohong soal status HIV-nya, juga karena pidana narkoba dan penipuan. Setelah bebas, dia dideportasi ke AS pada 2018.

Media setempat menyebutkan alamat terakhirnya di Clark County, Kentucky.

Gan mengatakan aparat ketika itu tidak mengetahui bahwa Brochez memiliki data HIV, dan membantah kementeriannya mencoba menutupi kasus tersebut.

Dia menambahkan pihaknya bekerja sama dengan pihak berwajib untuk menghalangi akses online pada data tersebut dan mengawasi internet untuk mencegah unggahan ulang.

Namun, dia mengingatkan bisa saja Brochez memiliki data lain.

Selama bertahun-tahun, warga asing pengidap HIV dilarang menginjakkan kaki di Singapura sama sekali. Pada 2015, Singapura membolehkan pengidap HIV untuk kunjungan singkat, tetapi mereka yang mencari kerja harus lulus tes khusus.

Tahun lalu, data kesehatan sekitar 1,5 juta warga Singapura juga diretas dan bocor di internet.



CLOSE