Prancis Tuntut Inggris Beri Alasan Jelas soal Penundaan Brexit

Prancis Tuntut Inggris Beri Alasan Jelas soal Penundaan Brexit
Seorang demonstran memegang karikatur wajah Perdana Menteri Inggris, Theresa May, yang digambarkan sebagai badut, saat melakukan aksi unjuk rasa terkait Brexit, di pintu masuk Gedung parlemen Inggris, di London, Selasa (26/2). ( Foto: Dok SP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 28 Februari 2019 | 15:06 WIB

Paris, Beritasatu.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron, Rabu (27/2/2019), menuntut Inggris memberi alasan jelas mengenai rencana penundaan Brexit yang seharusnya diberlakukan pada 29 Maret 2019.

“Jika Inggris membutuhkan lebih banyak waktu, kami akan mendukung permintaan perpanjangan itu tapi hanya jika ada pilihan-pilihan baru dari Inggris. Tapi kami sama sekali tidak akan menerima perpanjangan tanpa pandangan jelas tentang tujuan yang dikejar,” ujar Emmanuel Macron dalam konferensi pers bersama dengan Kanselir Jerman, Angela Merkel, di Paris, Prancis, Rabu (27/2).

Tanggapan Emmanuel Macron ini disampaikan dengan “nada lebih keras” dibandingkan pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel terkait permintaan Inggris agar tenggat waktu Brexit diundur sampai Juni 2019.

Inggris dijadwalkan keluar dari UE pada 29 Maret 2019 atau kurang dari sebulan lagi, tapi parlemennya masih harus menyetujui syarat-syarat perpisahan. Pada Selasa (26/2/2019), Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May, memberi sinyal bahwa Brexit bisa ditunda sampai Juni 2019 jika parlemen menolak kesepakatan amandemen bulan depan.

Menurut Emmanuel Macron, posisi UE sudah jelas terkait keputusan Inggris untuk keluar dari blok tersebut. Yang dibutuhkan UE saat ini adalah keputusan mengenai realisasi Brexit, bukan negosiasi dan mengulur-ulur waktu. “Seperti juru runding kami, Michel Barnier katakan, kami tidak butuh lebih banyak waktu, kami butuh keputusan,” ujar Emmanuel Macron.

Senada dengan itu, Angela Merkel mengatakan sepenuhnya berada di jalur yang sama seperti Macron, tapi bersedia menunjukkan fleksibilitas. “Jika Inggris membutuhkan lebih banyak waktu, kami tidak akan menolak, tapi kami tetap berharap untuk solusi yang teratur,” kata Angela Merkel.

Perpanjangan periode penarikan Inggris dari UE membutuhkan persetujuan dari 27 anggota UE yang masih tersisa. Para pejabat Prancis mengatakan Paris hanya akan menyetujui penundaan Brexit jika Inggris mempunyai solusi kredibel.

Sebagai contoh, jika Inggris menyerukan pemilihan, menggelar referendum kedua, atau menyampaikan rencana baru yang diterima semua pihak tapi butuh waktu untuk finalisasi.

Di pihak lain, anggota parlemen Inggris akan menyampaikan pernyataan untuk langkah-langkah Brexit selanjutnya setelah para pemimpin Eropa mengindikasikan akan mempertimbangkan penundaan perpisahan Inggris dari UE.

Theresa May mengatakan anggota parlemen akan menggelar voting untuk penundaan Brexit jika baik kesepakatannya maupun Brexit tanpa kesepakatan, keduanya ditolak oleh parlemen. Anggota parlemen Inggris akan memvoting amandemen untuk mosi pemerintah di Majelis nantinya.

Voting tersebut bukan hanya untuk kesepakatan Brexit Theresa May, tapi anggota parlemen juga mengupayakan jaminan dan memegang komitmen PM untuk perpanjangan batas Brexit tanggal 29 Maret 2019.

Theresa May menjadwalkan voting krusial Brexit akan digelar lagi tanggal 12 Maret atau 17 hari sebelum tenggat waktu Brexit. Para pengkritik pemerintahan May menuding PM hanya menunda keputusan penting belaka. Namun, Theresa May menyebut upayanya untuk membujuk UE namoaknya mulai membuahkan hasil.



Sumber: Reuters/BBC/Suara Pembaruan