Ini Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru

Ini Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru
Petugas kesehatan membawa seorang korban penembakan di sebuah masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat, 15 Maret 2019. ( Foto: AFP PHOTO )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 15 Maret 2019 | 17:13 WIB

Beritasatu.com - Pria yang merekam aksinya menembaki sebuah masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, dan membunuh sedikitnya 40 orang, Jumat (15/3/2019), mengidentifikasi dirinya sebagai warga Australia bernama Brenton Tarrant.

Di akun Twitter, yang sekarang sudah dihapus, Tarrant mengunggah sejumlah foto magasin senapan mesin dan sebuah tautan yang dia sebut sebagai manifesto perbuatannya, sebuah dokumen setebal 74 halaman.

Tarrant mengurai motivasinya, termasuk "untuk menciptakan atmosfer ketakutan" dan untuk "mengobarkan kekerasan" terhadap kaum Muslim.

Tarrant, warga Australia yang diyakini datang dari kota Grafton, negara bagian New South Wales, memberi judul dokumennya itu ‘The Great Replacement’ (Pergantian Akbar).

Di dalamnya, dia mengklaim telah menjalin "komunikasi singkat" dengan Anders Behring Brevik, pembunuh massal di Norwegia, dan bahwa Brevik memberikan "restu" atas serangannya.

Polisi belum memastikan bahwa Brenton adalah salah satu pria yang ditahan dalam serangan tersebut. Mereka mengatakan satu orang telah dikenakan tuduhan.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan seorang warganya terlibat dalam serangan tersebut.

Dalam dokumennya, Brenton memperkenalkan diri sebagai seorang warga kelas pekerja yang dewasa, di keluarga berpendapatan rendah.

“Saya cuma seorang pria kulit putih biasa, dari keluarga biasa, yang memutuskan untuk berdiri dan memastikan masa depan bagi kaum saya," tulisnya.

“Orang tua saya campuran Skotlandia, Irlandia, dan Inggris. Masa kecil saya biasa saja, tanpa masalah-masalah besar."

Tarrant merinci betapa dia tidak tertarik pada pendidikan, nyaris tidak lulus SMA, dan tidak pernah kuliah.

“Saya bekerja sebentar sebelum menghasilkan uang lewat investasi (cryptocurrency) di Bitconnect, lalu memakai uang investasi itu untuk bepergian," tulisnya.

Berita-berita dari Grafton Daily Examiner tahun 2010 menunjukkan bahwa Tarrant pernah menjadi pelatih pribadi di Big River Squash and Fitness Centre.

Dalam manifesto tersebut, dia juga mengklaim tidak mencari ketenaran, dan bahwa dia seorang yang "menjaga privasi dan pribadi tertutup".

Dia menyebut dirinya seorang “ethno-nationalist” dan "fasis".

Tarrant mengatakan serangan itu sudah direncanakan selama dua tahun dan lokasi di Christchurch sudah dia amati tiga bulan sebelumnya.

Awalnya, dia tidak memilih Selandia Baru sebagai target, tetapi Tarrant ingin menyampaikan pesan bahwa "tidak ada tempat di dunia ini yang aman".

“Saya tiba di Selandia Baru untuk tinggal sementara, sembari merencanakan dan berlatih, tetapi segera saya menyadari bahwa Selandia Baru adalah target yang kaya seperti di mana pun di dunia Barat,” tulisnya.

“Benar. Ini sebuah serangan teroris."



Sumber: The Guardian