Penembakan Dua Masjid di Selandia Baru

Zaed Menangis Pilu Saat Hadiri Pemakaman Ayah dan Kakaknya

Zaed Menangis Pilu Saat Hadiri Pemakaman Ayah dan Kakaknya
Zaid Mustafa (tengah, di kursi roda), yang terluka dalam penembakan dua masjid di Kota Christchurch, menghadiri pemakaman ayahnya Khalid Mustafa (44) dan kakaknya Hamzah Mustafa (13), di Taman Pemakaman Memorial Christchurch, Selandia Baru, Rabu (20/3/2019). ( Foto: AFP / Athony Wallace )
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 20 Maret 2019 | 16:07 WIB

Christchurch, Beritasatu.com - Tidak ada kesedihan yang melebihi rasa kehilangan orang yang dikasihi. Kesedihan itu pula yang tak mampu ditutupi oleh Zaed Mustafa (13), saat menghadiri pemakaman ayahnya, Khalid Mustafa (44) dan kakaknya Hamza Mustafa (15).

Meski masih dirawat karena terluka dalam peristiwa penembakkan di Masjid Al Noor, Kota Christchurch, pada 15 Februari 2019, Zaed Mustafa tetap memaksa untuk hadir dalam acara pemakaman ayah dan kakaknya, di Taman Pemakaman Memorial Christchurch, Rabu (20/3/2019) siang waktu setempat.

Zaed Mustafa yang mengalami luka tembak pada kakinya, datang dengan didorong di kursi roda. Dia memakai kaos berwarna merah dan kakinya ditutupi selimut berwarna biru.

Awalnya Zaed Mustafa terlihat tegar, namun ketika doa mulai dipanjatkan untuk mengiring pemakaman ayah dan kakaknya, Zaed Mustafa tak sanggup menahan kesedihan. Zaed Mustafa menangis pilu sambil tetap mengangkat kedua tangannya untuk memanjatkan doa.

Suasana haru langsung mewarnai prosesi pemakaman dua korban tewas dalam aksi penembakan yang dilakukan Brenton Tarrant, warga negara Asutralia, pada 15 Maret 2019, yang menewaskan 50 orang itu.

Banyak pelayat yang berbaris untuk membantu mengisi kuburan dengan tanah dengan tangan ketika kedua jenazah diletakkan di dalam kubur. Hal itu membuat petugas makam yang menggunakan sekop, menahan diri untuk memastikan semua yang ingin mengambil bagian untuk mengisi kuburan dengan tanah dapat melakukannya.

Khalid Mustafa adalah pengungsi Suriah yang baru pindah bersama keluarganya ke Selandia Baru enam bulan lalu. Kematian Khalid Mustafa dan putranya Hamza Mustafa dalam aksi penembakan yang dilakukan Brenton Tarrant menjadi sorotan dan mengundang simpati banyak orang.

Pemakaman Khalid Mustafa dan Hamza Mustafa tidak hanya dihadiri umat Muslim dan warga Christchurch, tetapi juga beberapa kerabat dan warga dari kota-kota lain, seperti Auckland. Gulshad Ali, mengaku melakukan perjalanan dari Auckland untuk menghadiri pemakaman tersebut.

“Semua orang berduka dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Saya hadir di sii karena merasa hancur dan sedih dengan penembakan itu,” kata Gulshad Ali.

Mohamed Aljibaly, seorang imam di Pusat Islam Australia, juga melakukan perjalanan untuk menghadiri pemakaman Khalid Mustafa dan Hamzah Mustafa. Dia mencatat bagaimana keluarga itu melarikan diri dari perang delapan tahun yang mengerikan di Suriah hanya untuk mencari kedamaian di Selandia Baru, salah satu negara paling damai di dunia.

"Ini adalah ayah dan anak. Dia melarikan diri dari apa yang terjadi di Suriah setiap hari, dari pembantaian yang terjadi di sana hampir setiap hari, tetapi justru meninggal karena pembantaian di Selandia Baru, tempat yang dia anggap sebagai miliknya, rumah baru bagi keluarganya,” kata Aljibaly.

Ungkapan kesedihan juga disampaikan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. Dia mengatakan merasa “hancur” dengan berita bahwa Khalid Mustafa dan Hamzah Mustafa yang justru melarikan diri dari pembantaian mengerikan di Suriah, tewas terbunuh dalam aksi penembakan yang dilakukan Brenton Tarrant, warga Australia, di dua masjid di Kota Christchurch, pada 15 Maret 2019.

"Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya, karena tahu betapa sulitnya keluarga Mustafa datang ke sini untuk keselamatan dan untuk perlindungan, dan mereka seharusnya aman di sini. Ini adalah rumah mereka," kata Jacinda Ardern saat konferensi pers di Kantor Polisi Pusat Christchurch.

Sebelum menghadiri pemakaman keduanya, Jacinda Ardern juga mengunjungi SMA Cashmere Christchurch, tempat Hamza Mustafa menempuh pendidikan. "Saya perlu mendengar kesedihan, [dan] saya merasakan kesedihan," ujar jacinda Ardern.



Sumber: Aljazeera/CNN/Suara Pembaruan