Topan Idai

Presiden Zimbabwe Umumkan Keadaan Bencana Nasional

Presiden Zimbabwe Umumkan Keadaan Bencana Nasional
Presiden Simbabwe, Emmerson Mnangagwa. ( Foto: Istimewa )
Unggul Wirawan / JAI Rabu, 20 Maret 2019 | 16:40 WIB

Harare, Beritasatu.com - Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa mengumumkan negaranya dalam keadaan bencana nasional, pascaterjangan Topan Idai di wilayah Zimbabwe, Mozambik dan Malawi, pada Senin (18/3/2019).

Emmerzon Mnanggagwa yang sedang melakukan perjalanan luar negeri ke Timur Tengah, langsung memutuskan kembali bersama rekannya, Presiden Mozambik Filipe Nyusi, untuk meninjau keadaan darurat yang disebabkan oleh Topan Idai di negara mereka.

“Presiden Zimbabwe pulang dari Uni Emirat Arab untuk memastikan terlibat langsung dengan respons nasional dan memberikan bantuan kepada para korban Topan Idai,” bunyi pernyataan Kementerian Informasi Zimbabwe, Selada (19/3/2019).

Menurut pejabat setempat, Topan Idai yang menerjang bagian timur Zimbabwe, telah menyebabkan 98 orang tewas dan sedikitnya 217 orang dinyatakan hilang. Sekitar 15.000 orang telah terlantar, dengan Chimanimani dan Chipinge menjadi distrik yang paling terdampak.

Clare Nullis, dari Organisasi Meteorologi Dunia PBB, mengatakan Topan Idai bisa menjadi salah satu bencana terburuk yang berhubungan dengan cuaca. Bencana Idai berhubungan dengan siklon tropis di belahan bumi selatan.

Menurut Clare Nullis, daerah-daerah besar di sebelah barat kota pelabuhan Beira dilanda banjir parah, dan di tempat-tempat yang dekat dengan sungai Buzi dan Pungwe, air banjir sedalam beberapa meter, sepenuhnya merendam rumah, tiang telepon, dan pohon.

Selain Zimbabwe dan Mozambik, Malawi juga mengalami dampak parah akibat terjangan Topan Idai. Herve Verhoosel, juru bicara senior di Program Pangan Dunia PBB mengatakan sebanyak 920.000 orang lainnya terkena dampak di Malawi.

“Ini adalah darurat kemanusiaan utama yang semakin besar setiap saat. Banjir sungai Pungue dan Buzi telah menciptakan samudra daratan yang membentang bermil-mil ke segala arah,” kata Herve Verhoosel.



Sumber: Al Jazeera/CNN/Suara Pembaruan