Di Pengasingan, Thaksin Yakin Menangi Pemilu

Di Pengasingan, Thaksin Yakin Menangi Pemilu
Thaksin Shinawatra ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 23 Maret 2019 | 18:48 WIB

Bangkok, Beritasatu.com- Pemilu Thailand pada Minggu (24/3) akan menjadi pertarungan antara pemerintah yang didukung militer dengan partai-partai oposisi. Mantan pemimpin yang telah diasingkan, Thaksin Shinawatra tetap yakin dapat memenangi pemilu.

Pemimpin junta militer, Perdana Menteri (PM) Prayuth Chan-O-Cha melakukan pidato terakhirnya untuk tetap menjadi PM. Hampir bersamaan, mantan pemimpin yang telah diasingkan, Thaksin Shinawatra, yang partainya masih populer di Thailand, juga berbicara di resepsi pernikahan putrinya di Hong Kong.

“Kita pasti akan menang,” kata Thaksin, seorang taipan telekomunikasi yang loyalisnya selalu memenangkan setiap pemilu sejak 2001.

Thaksin tidak merinci lebih lanjut kata-katanya seperti terlihat dari video yang disebarkan secara online oleh media Thailand, Khaosod English, namun mendesak para tamu di resepsi itu agar memilih. Di samping Thaksin duduk putri tertua dari Raja Maha Vajiralongkorn, Putri Ubolratana Rajakanya Sirivadhana Barnavadi, yang sempat mengejutkan negara itu bulan lalu karena menerima pencalonan PM dari partai terkait Thaksin. Dia secara cepat langsung didiskualifikasi oleh komisi pemilihan dan partai pendukungnya dilarang ikut pemilu karena melibatkan monarki dalam politik.

Pemilu hari Minggu akan digelar sebagai kontes beresiko tinggi antara demokrasi dan militer. Namun, para pengkritik mengatakan konstitusi baru yang didukung tentara memberikan para pejabat yang ditunjuk junta lebih banyak suara dalam pemerintahan selanjutnya.

Pemimpin junta Prayuth tampil untuk pertama kalinya dalam acara kampanye resmi sambil melambaikan tanggan saat layar menunjukkan videonya sebagai pemimpin junta, memanen padi, dan memeluk anak-anak. Prayuth berjanji untuk menyelamatkan negara, menyelamatkan agama, dan menyelamatkan monarki, serta memimpin negara keluar dari politik yang memecah belah selama 15 tahun terakhir.

Partai pendukung Prayuth, Palang Pracharat, mengadopsi slogan baru menjelang pemungutan suara dengan menampilkan nama panggilan Prayuth. “Pilih perdamaian, pilih 'Paman Tu'.” Sementara itu, Thaksin yang digulingkan dari kursi PM dalam kudeta tahun 2006, saat ini tinggal di pengasingan setelah pengadilan memvonisnya atas korupsi tahun 2008.

Namun, beberapa partai pro-Thaksin masih berkompetisi dalam pemilu hari Minggu, termasuk Pheu Thai, yang pemerintahannya digulingkan pada 2014 oleh Prayuth yang saat itu pemimpin militer. Pheu Thai memimpin front demokrasi dari partai-partai yang melawan Palang Pracharat, yaitu partai proksi baru yang mendukung Prayuth.

“Kami ada di sini untuk mengangkat Anda dari keputusasaan,” kata calon PM dari Pheu Thai, Sudarat Keyuraphan.



Sumber: Suara Pembaruan