Parlemen Pecah, Dorongan Referendum Kedua Brexit Menguat

Parlemen Pecah, Dorongan Referendum Kedua Brexit Menguat
Theresa May ( Foto: Dok SP )
Natasia Christy Wahyuni / Jeany Aipassa / JAI Senin, 25 Maret 2019 | 14:38 WIB

London, Beritasatu.com - Perpecahan di Parlemen Inggris semakin melebar seiring dengan menguatnya dorongan untuk melakukan referendum kedua keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit.

Salah satu menteri kabinet paling senior di pemerintahan Perdana Menteri (PM) Theresa May, Kanselir Philip Hammond, kembali menyuarakan kemungkinan referendum kedua untuk memecahkan kebuntuan Brexit.

Menurut Philip Hammond, referendum kedua Brexit tampaknya menjadi salah satu opsi yang harus dipilih anggota Parlemen Inggris dalam pertemuan beberapa hari mendatang.

"Referendum kedua adalah usulan koheren yang layak dipertimbangkan (anggota parlemen, Red)," kata Philip Hammond, di London, Inggris, Minggu (24/3).

Pernyataan itu, disampaikan Hammond beberapa saat setelah aksi massa di pusat Kota London yang menuntut pelaksanaan referendum kedua.

Penyelenggara demonstrasi bertajuk “Put it to the People” mengklaim satu juta orang bergabung dalam prosesi damai di ibu kota. Jumlah orang yang terlibat, tanpa dikonfirmasi oleh polisi, disebut-sebut menjadi demonstrasi terbesar sejak aksi melawan Perang Irak tahun 2003.

Sejumlah pengamat menilai pernyataan Philip Hammond menunjukkan perpecahan kian melebar di pemerintahan PM Theresa May yang telah berulang kali menolak referendum kedua Brexit.

Philip Hammond mengonfirmasi parlemen bahwa voting atas serangkaian pilihan Brexit akan digelar pekan ini. Dia mengakui Theresa May tidak mungkin menyelamatkan rencananya sendiri yang telah dihancurkan anggota parlemen lewat dua kali penolakan dalam voting.

“Salah satu cara atau lainnya parlemen akan mempunyai kesempatan pekan ini untuk memutuskan apa yang disukai dan saya berharap akan mengambil kesempatan itu. Saya tidak yakin ada mayoritas di parlemen untuk referendum kedua, tapi itu adalah proporsi yang sangat koheren. Banyak orang akan menentang keras, tapi itu proposi yang layak dipertimbangkan,” ujar Philip Hammond.

Anggota parlemen Inggris akan menggelar voting secepatnya pada Selasa (26/3/2019) untuk alternatif lain Brexit sebagai upaya keluar dari kebuntuan politik sebelum tenggat waktu Brexit terbaru pada 12 April 2019 ini berakhir.



Sumber: Dailymail/CNN/Suara Pembaruan