Jaksa Agung: Kasus Najib Jadi Preseden Bagi Pemimpin Malaysia

Jaksa Agung: Kasus Najib Jadi Preseden Bagi Pemimpin Malaysia
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak (tengah) meninggalkan Pengadilan Kuala Lumpur, seusai mengikuti sidang pertama skandal korupsi 1MDB, pada Rabu (3/4). ( Foto: AFP / Mohd Rasfan )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 4 April 2019 | 15:13 WIB

Kuala Lumpur, Beritasatu.com - Jaksa penuntut menyatakan kasus mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Najib Razak, yang telah memasuki tahap persidangan, menjadi preseden bagi pemimpin Malaysia ke depan bahwa tak ada yang tak tersentuh hukum.

Pernyataan itu, disampaikan Jaksa Agung, Tommy Thomas, yang membacakan tuntutan terhadap Najib Razak pada sidang pertama skandal 1MDB, di Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur, Rabu (3/4/2019).

Dalam tuntutannya, Tommy Thomas mengatakan, Najib Razak memiliki hak istimewa dan menggunakan kekuasaan absolut ketika menduduki jabatan paling berkuasa di Malaysia selama hampir satu dekade. Namun hak istimewa tersebut hilang ketika Najib melakukan pelanggaran dan harus diproses secara hukum.

“Terdakwa tidak berada di atas hukum dan penuntutannya, serta pengadilan ini harus menjadi preseden bagi semua pemimpin dan pemegang masa depan dari kantor (Perdana Menteri, red) ini,” kata Tommy Thomas.

Dalam persidangan perdana skandal korupsi 1MDB, Najib Razak menghadapi tujuh dakwaan, yaitu satu dakwaan penyalahgunaan kekuasaan, tiga dakwaan pelanggaran pidana kepercayaan, dan tiga dakwaan pencucian uang sebesar 42 juta ringgit Malaysia (Rp 145,9 miliar) yang diduga masuk ke rekening pribadi Najib Razak.

Menurut Tommy Thomas, bukti penuntutan akan memperlihatkan kartu kredit Najib Razak telah dipakai untuk pengeluaran sebesar US$ 130.625 (sekitar Rp 1,85 miliar) di toko desainer ternama Chanel di Honolulu. Selain itu, bukti juga menunjukkan pengeluaran cek pribadi termasuk untuk pembayaran renovasi di rumah Najib Razak.

“Bukti menunjukkan cek pribadi dikeluarkan untuk, antara lain, pembayaran untuk pekerjaan renovasi di kediaman terdakwa di Jalan Langgak Duta Nomor 11, Kuala Lumpur, tempat tinggal terdakwa di Pekan, Pahang, dan cek-cek yang dikeluarkan untuk berbagai komponen partai politik Barisan Nasional,” kata Tommy Thomas.

Tommy Thomas juga mengatakan Najib Razak telah mengeluarkan total 15 cek pribadi dari rekening bank miliknya, AmPrivate, dengan nominal mencapai 10.776.514 ringgit, menyusul sejumlah aliran uang sebesar 42 juta ringgit ke rekeningnya.

Sidang perdana Najib Razak tersebut, juga menghadirkan saksi pejabat Komisi Perusahaan Malaysia Muhamad Akmaludin Abdullah, yang menyampaikan bukti teknis secara luas terkait catatan perusahaan. Seusai penjelasan saksi, hakim menyatakan sidang perdana kasus Najib Razak diakhiri dan akan dilanjutkan pada 15 April 2019.



Sumber: Suara Pembaruan/CNA/Malay Mail