Mantan Presiden Aljazair Minta Maaf Atas Kegagalan

Mantan Presiden Aljazair Minta Maaf Atas Kegagalan
Abdelaziz Bouteflika ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 4 April 2019 | 16:01 WIB

Aljir, Beritasatu.com - Mantan presiden Aljazair, Abdelaziz Bouteflika, meminta maaf kepada rakyat atas kegagalan pemerintahannya.

Permintaan maaf tersebut disampaikan secara terbuka oleh Abdelaziz Bouteflika melalui surat perpisahan yang dipublikasikan pada Rabu (3/4/2019). 

Surat itu disampaikan Abdelaziz Bouteflika sehari setelah dia mengundurkan diri karena aksi protes selama berminggu-minggu dan kehilangan dukungan dari tentara.

“Saya meminta maaf kepada Anda atas segala kegagalan terhadap Anda. Saya meninggalkan panggung politik tanpa kesedihan atau rasa takut, demi masa depan negara kita,” kata Abdelaziz Bouteflika, dalam surat perpisahannya, di Aljir, Aljazair.

Lewat suratnya, Abdelaziz Bouteflika juga mengaku bangga untuk kontribusinya kepada negaranya, serta mendesak rakyat Aljazair agar tetap bersatu. Sementara itu, kelompok-kelompok masyarakat di Aljazair tetap menyuarakan aksi protes lanjutan.

Pengunduran diri Abdelaziz Bouteflika telah diterima oleh Dewan Konstusional Aljazair dan parlemen telah diberitahu bahwa jabatan presiden saat ini kosong.

Sekitar 20 kelompok masyarakat sipil Aljazair menyatakan pihaknya akan menolak transisi kekuasaan dengan mempertahankan struktur yang sama, serta menyerukan aksi protes lagi, pada Jumat (5/4/2019) untuk perubahan demokrasi.

“Pengunduran diri Abdelaziz Bouteflika adalah kemenangan pertama, tapi tidak cukup,” sebut kelompok-kelompok sipil itu lewat pernyataan gabungan.

Konstitusi Aljazair menyatakan Ketua Majelis Tinggi Parlemen, Abdelkader Bensalah (77), saat ini menjabat sebagai pemimpin sementara sampai 90 hari sesuai batas waktu yang ditentukan untuk penyelenggaraan pemilihan presiden.

Abdelkader Bensalah, yaitu mantan duta besar dan jurnalis, memegang posisi politisi senior selama 25 tahun, tapi tetap rendah hati dan jarang memberikan wawancara, atau tampil di muka umum. Dia memimpin Majelis Tinggi Aljazair selama hampir 20 tahun kepemimpinan Abdelaziz Bouteflika.

Mantan kepala partai penguasa Front Pembebasan Nasional (FLN), Ali Benflis, mengatakan bukan hanya Abdelaziz Bouteflika yang harus mundur, melainkan seluruh tokoh elit politik dari rezim yang telah memerintah Aljazair selama beberapa dekade.

Hal itu berartiAbdelkader Bensalah, Perdana Menteri (PM) sementara Noureddine Bedoui, dan Kepala Dewan Konstitusi Tayeb Belai juga harus mengundurkan diri.

Para pengunjuk rasa merayakan pengunduran diri Bouteflika dengan nyanyian dan pengibaran bendera di ibu kota Aljir, Selasa (2/4) malam. Mereka juga menyatakan secara jelas tidak akan menerima presiden baru dari elite yang sudah mengakar saat ini.

“Saya ingin putri saya mengingat hari bersejarah ini. Bouteflika telah pergi, tapi ini masih jauh dari selesai,” kata seorang pengunjuk rasa Amal (35), yang memakai kaus bertuliskan slogan, “Saya melawan sistem.”



Sumber: Suara Pembaruan/Al Jazeera