WFP: 113 Juta Orang Hadapi Kelaparan Akut

WFP: 113 Juta Orang Hadapi Kelaparan Akut
Foto dokumentsi pada 19 Juli 1994 ini memperlihatkan seorang pengungsi Rwanda lama, kelelahan dan kelaparan, dibawa oleh kerabat ke kamp pengungsi dekat bandara Goma. ( Foto: AFP / Pascal GUYOT )
Unggul Wirawan / WIR Sabtu, 6 April 2019 | 21:28 WIB

Brussels, Beritasatu.com- Laporan Global 2019 Program Pangan Dunia (WFP) tentang krisis pangan menyatakan sejumlah 130 juta orang mengalami krisis pangan akut. Kekhawatiran itu terungkap dalam laporan mengenai orang-orang yang tinggal di lima negara di Afrika (Republik Demokratik Kongo, Etiopia, Sudan, Sudan Selatan, dan Nigeria).

“Anda dapat berdebat tentang apa yang menyebabkan perubahan iklim tetapi satu hal yang tidak dapat Anda debat adalah dampak yang dialami iklim ekstrem saat ini,” kata Direktur Eksekutif WFP David Beasley saat wawancara dengan koresponden Euronews.

Pada Kamis (4/4), Beasley juga telah meminta AS dan negara-negara barat lainnya untuk mengirim bantuan pangan ke Korea Utara yang kelaparan dan, memprioritaskan kehidupan anak-anak di sana daripada politik.

Menurut the Guardian, diperkirakan 11 juta orang atau 40% dari populasi Korut, sudah kekurangan gizi. Setidaknya satu dari lima anak terhambat karena kekurangan gizi kronis. Akibat gelombang panas dan banjir besar selama setahun terakhir, Korea Utara menghadapi defisit 1,4 juta ton produksi pangan tahun ini, termasuk gandum, beras, kentang, dan kedelai.

Meskipun demikian, krisis pangan terburuk juga terjadi di Yaman. Afghanistan dan Suriah. Negara-negara itu juga berada di delapan negara teratas yang terdaftar oleh WFP, sehingga menempatkan Asia Barat dan Timur Tengah sebagai wilayah yang paling terkena dampak kedua.

Penyebab utama kelaparan akut dan kerawanan pangan antara lain : konflik (74 juta orang terdampak), iklim (29 juta orang yang terkena dampak), dan gejolak ekonomi (10 juta orang terdampak).

Setelah aksi topan Idai yang menghancurkan, Mozambik menjadi lokasi lain bagi operasi bantuan WFP. Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) itu bermaksud menyasar 1,7 juta orang dalam beberapa bulan mendatang.



Sumber: Suara Pembaruan