Partai AKP Turki Desak Penghitungan Ulang Suara Pemilu

Partai AKP Turki Desak Penghitungan Ulang Suara Pemilu
Recep Tayyip Erdogan telah berkuasa di Turki sebagai Perdana Menteri atau Presiden selama lebih dari 15 tahun. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 8 April 2019 | 09:16 WIB

Ankara, Beritasatu.com- Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Presiden Tayyip Erdogan mendesak penghitungan ulang penuh dari semua surat suara dalam pemilihan lokal di Istanbul.

Hal itu disampaikan, seorang pejabat senior partai AK pada Minggu (7/4), seminggu setelah hasil awal menunjukkan kemenangan tipis bagi partai oposisi utama Turki.

AKP mengalami kekalahan dari pemilihan wali kota Istanbul dan Ankara, yang merupakan kota yang didominasi partai dan para pendahulu Islam selama seperempat abad.

Erdogan bahkan menjadi terkenal sebagai wali kota Istanbul pada 1990-an sebelum tampil sebagai pemimpin nasional.

AKP telah mengajukan banding atas hasil awal di semua 39 distrik di kota berpenduduk 15 juta orang, yang mengarah ke penghitungan ulang sebagian atau seluruh kota terbesar di Turki.

Sejauh ini, kemenangan awal Ekrem Imamoglu, kandidat wali kota untuk Partai Rakyat Republik sekuler (CHP), telah menyempit setelah penghitungan ulang selesai.

Wakil ketua partai AKP Ali Ihsan Yavuz mengatakan ada kesalahan terorganisasi dalam hitungan awal. AKP akan naik banding ke Badan Pemilihan Tinggi (YSK), sebagai penengah terakhir pada perselisihan pemilu, agar semua surat suara Istanbul dihitung ulang.

“Kami memilih jalur untuk menghilangkan kesalahan numerik. Tapi itu belum berakhir," katanya kepada wartawan dalam komentar yang disiarkan televisi pada Minggu.

Kekalahan di Ankara dan Istanbul, jika dikonfirmasi KPU, akan sangat menyakitkan bagi Erdogan, yang berkampanye tanpa henti untuk pemilihan lokal.

Selama 16 tahun berkuasa, Erdogan telah mengawasi pertumbuhan ekonomi yang kuat, sebagian besar didukung oleh ledakan pembangunan yang didanai dengan utang murah, yang telah memenangkan dukungan untuk AKP di luar basis Turki yang saleh dan konservatif.



Sumber: Suara Pembaruan