Keluar dari ICC, Sultan Johor Berterima Kasih pada Pemerintah Mahathir

Keluar dari ICC, Sultan Johor Berterima Kasih pada Pemerintah Mahathir
Mahathir Mohamad. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 8 April 2019 | 17:47 WIB

Johor Bahru, Beritasatu.com- Sultan Johor Ibrahim Iskandar menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Malaysia pimpinan PM Mahathir Mohamad karena telah menarik diri dari Statuta Roma sebagai dasar dari pendirian International Criminal Court (ICC) atau Pengadilan Pidana Internasional.

Negara yang meratifikasi Statuta Roma terikat untuk mengadili tindakan pidana luar biasa antara lain kejahatan melawan kemanusiaan, kejahatan agresi, genosida, dan kejahatan perang.

“Saya berterima kasih kepada pemerintah Malaysia karena mendengarkan suara rakyat dan membatalkan kesepakatan Statuta Roma yang ditanda tangani bulan Maret lalu,” kata Ibrahim, Minggu (7/4)

“Saya juga berterima kasih kepada mereka karena menghormati dan menerima pandangan dari Konferensi Penguasa,” tambahnya.

Lebih dari 130 negara telah menandatangani Statuta Roma, tapi hanya 123 negara yang meratifikasi dokumen tersebut menurut situs Koleksi Perjanjian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Berdasarkan Statuta Roma, ICC juga bisa menuntut individu, tidak hanya kelompok atau negara.

“Saya berharap pemerintah (Malaysia) akan selalu memprioritaskan kepentingan rakyat daripada kepentingan politik,” tandas Ibrahim, seraya meminta agar pemerintah terus memastikan kedaulatan negara dan menjamin harmoni rakyat.

Pada Maret 2019, Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah menandatangani Instrumen Aksesi (penambahan anggota) ke Statuta Roma, yang akan berlaku mulai 1 Juni 2019. Keputusan itu dikritik oleh Putra Mahkota Johor Ismail Sultan Ibrahim, sebagai langkah inkonstitusional, yang mengklaim bahwa Konferensi Penguasa tidak diajak berdiskusi sebelumnya.

Pada Jumat (5/4), Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohamad mengumumkan negara itu tidak lagi bergabung dalam ICC, dengan alasan tekanan politik dan kebingungan diantara para penguasa. Mahathir mengatakan keputusan untuk menarik diri diciptakan oleh “satu orang tertentu yang ingin bebas untuk memukuli orang”. Tapi, dia tidak menyebutkan nama orang itu.



Sumber: Suara Pembaruan