Demonstrans Tolak Presiden Sementara Aljazair

Demonstrans Tolak Presiden Sementara Aljazair
Abdelkader Bensalah ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 10 April 2019 | 21:52 WIB

Aljir,Beritasatu.com- Presiden sementara Aljazair Abdelkader Bensalah dengan cepat ditolak oleh ribuan demonstran pada Selasa (9/4). Penolakan ini muncul setelah Bensalah ditunjuk oleh parlemen untuk mengambil alih selama masa transisi yang bergejolak usai puluhan tahun pemerintahan otokratis.

“Saya berterima kasih kepada tentara dan semua layanan keamanan atas pekerjaan mereka. Kita harus bekerja sehingga memungkinkan rakyat Aljazair memilih presiden mereka sesegera mungkin,” kata Bensalah kepada parlemen kepada parlemen setelah pengangkatannya.

Mengganti pemimpin lama Abdelaziz Bouteflika, yang mengundurkan diri pekan lalu, Abdelkader Bensalah dilihat oleh para pemrotes sebagai bagian dari kroni penguasa yang sakit dan tidak tersentuh hukum dan telah mendominasi sejak kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1962.

Sebagai sekutu lama Bouteflika, Bensalah telah terpilih kembali sebagai pemimpin majelis tinggi sejak awal 2000-an. Dalam pidato di televisi, dia berjanji pada Selasa (9/4) untuk menyelenggarakan pemilihan umum bebas dan adil.

Kantor berita APS melaporkan, beberapa jam setelah parlemen menentukan pilihan, Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Gaid Salah mengatakan militer akan berbuat lebih banyak untuk memastikan perdamaian bagi rakyat Aljazair.

“Secara keseluruhan, cara mengisi kekosongan Kepresidenan Republik ini tidak membawa negara lebih dekat ke akhir krisis,” seru Ali Benflis, pemimpin partai oposisi Talae El Houriyet.

“Mengangkat Bensalah akan memicu kemarahan dan itu justru bisa meradikalisasi para pengunjuk rasa,” timpal sopir taksi Hassen Rahmine ketika kerumunan berkumpul di pusat kota Aljir.

Pada satu titik, aparat polisi sempat menggunakan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa. Protes massa telah menyebabkan disintegrasi apa yang telah digambarkan sebagai "benteng" elit yang berkuasa yakni veteran perang kemerdekaan melawan Prancis, tokoh partai yang berkuasa, pengusaha, tentara dan serikat buruh.



Sumber: Suara Pembaruan