Dalam Siaga Tinggi, India Memulai Pemilu

Dalam Siaga Tinggi, India Memulai Pemilu
Priyanka Gandhi Vadra (kanan), pemimpin politik India dan sekretaris jenderal partai Kongres untuk Uttar Pradesh timur, dengan suaminya Robert Vadra (kiri) menunggu di luar kantor pengumpul distrik selama Nominasi Rahul Gandhi untuk pemilihan umum yang akan datang di Amethi, India, Rabu (10/4/2019). ( Foto: AFP / SANJAY KANOJIA )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 11 April 2019 | 18:04 WIB

New Delhi, Beritasatu.com- India dalam situasi siaga tinggi untuk memasuki pemilihan umum marathonnya yang digelar mulai hari Kamis (11/4). Puluhan juta rakyat India dari 20 negara bagian dan wilayah kesatuan akan memberikan suara mereka di 91 daerah pemilihan.

Tujuh fase pemungutan suara yang bertujuan memilih anggota baru parlemen majelis rendah akan berlangsung sampai 19 Mei 2019. Perhitungan suara digelar tanggal 23 Mei 2019.

Satu bom meledak pada Selasa (9/4) yang disalahkan kepada pemberontak Maoist, telah menewaskan lima orang, termasuk seorang anggota parlemen pendukung Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi. Serangan itu meningkatkan pertumpahan darah dalam pemilu.

Kepala polisi negara bagian DM Awaasthi mengatakan sekitar 80.000 pasukan, polisi, dan paramiliter akan dikerahkan di negara bagian yang bemasalah sekaligus tempat serangan terjadi, Chhattisgarh, saat pemungutan suara dimulai hari Kamis. Pemberontak Maoist berada di balik banyak pemberontakan di setidaknya sembilan negara bagian.

Namun, Komisi Pemilihan menegaskan serangan itu tidak akan mengubah jadwal pemilu. Kursi di 20 negara bagian akan diputuskan dalam hari pertama dari tujuh hari pemungutan suara yang tersebar dalam enam minggu.

Jumlah pemilih yang memenuhi syarat sebanyak 900 juta sehingga pemilu India dianggap sebagai pemilu terbesar di dunia. Majelis rendah parlemen memiliki 543 kursi terpilih dan setiap partai atau koalisi partai membutuhkan minimum 272 kursi untuk membentuk pemerintahan.

Kampanye pemilu didominasi partai Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi, Bharatiya Janata (BJP) yang menjanjikan mempertahankan mayoritas yang berkuasa. Namun, partai penguasa yang meraih kemenangan bersejarah pada 2014 itu menghadapi tantangan dari partai-partai kawasan yang kuat.



Sumber: Suara Pembaruan