UE dan Inggris: Brexit Ditunda Hingga 31 Oktober 2019

UE dan Inggris: Brexit Ditunda Hingga 31 Oktober 2019
Demonstran antiBrexit menggelar unjuk rasa di depan gedung parlemen, London, Inggris. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 11 April 2019 | 18:33 WIB

Brussels, Beritasatu.com- Para pemimpin dari 27 negara yang tersisa di Uni Eropa dan Perdana Menteri Inggris Theresa May telah sepakat untuk memperpanjang Brexit hingga 31 Oktober 2019.

Pada pertemuan darurat di Brussels yang berlangsung selama lebih dari enam jam pada Rabu (10/4), para pemimpin Uni Eropa sepakat untuk menawarkan May perpanjangan enam bulan yang diterima oleh perdana menteri Inggris.

"EU27 / UK telah menyetujui perpanjangan yang fleksibel hingga 31 Oktober. Ini berarti tambahan enam bulan bagi Inggris untuk menemukan solusi terbaik," bunyi teks pidato Presiden Dewan Eropa Donald Tusk.

May telah meminta untuk menunda kepergian Inggris dari UE hingga 30 Juni 2019.

Menurut sumber-sumber UE, sebagian besar pemimpin UE mendukung jangka panjang, sampai akhir tahun atau lebih.

Tetapi Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bertanggung jawab karena memblokir penundaan yang lama dan meyakinkan para pemimpin lain untuk menyetujui yang lebih pendek untuk menjaga fungsi Uni Eropa.

"Memang benar bahwa mayoritas lebih menyukai perpanjangan yang sangat lama. Tapi menurut saya tidak logis, dan di atas segalanya, itu tidak baik untuk kita, juga untuk Inggris," kata Macron.

Perpanjangan itu dinilai fleksibel, kata para diplomat UE, yang berarti Inggris bisa pergi begitu perjanjian perceraian Brexitnya disahkan. Namun, jika tetap melampaui 22 Mei, negara tersebut kemungkinan akan diminta untuk berpartisipasi dalam pemilihan Uni Eropa.

"Tolong jangan buang waktu ini," ujar Tusk mengatakan pada konferensi pers setelah delapan jam pembicaraan para pemimpin Uni Eropa tentang masalah ini.

Tusk mengatakan Inggris masih memiliki semua opsi Brexit yang tersedia selama perpanjangan, dari menyetujui kesepakatan perceraian yang buntu, untuk mengubah strategi penundaan menjadi membatalkan kepergian sama sekali.



Sumber: Suara Pembaruan