Pemilu Luar Negeri

Banyak Pemilih Khawatir Tak Dapat Salurkan Suara

Banyak Pemilih Khawatir Tak Dapat  Salurkan Suara
WNI di Luar Negeri Coblos Surat Suara dengan Kotak Keliling ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Jeany Aipassa / JAI Jumat, 12 April 2019 | 17:54 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com - Banyak pemilih yang berada di luar negeri (LN) khawatir tak dapat menyalurkan suara dalam Pemilihan Umum (Pemilu) awal yang dijadwalkan berlangsung pada 8-14 April 2019. Pasalnya, selain belum terdaftar, surat suara yang dikirim melalui pos juga belum diperoleh para pemilih.

Sringatin, seorang tenaga kerja wanita di Hong Kong, mengatakan bahwa namanya belum ada di daftar pemilih, padahal telah mendaftar secara daring. Hal itu membuat Sringatin melaporkan ke Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Hong Kong karena khawatir tak dapat berpartisipasi dalam Pemilu 2019. 

"Saya bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Banyak pekerja migran lainnya mengeluhkan hal yang sama. Kami telah mengeluhkan masalah ini kepada PPLN dan perwakilan Indonesia tetapi mereka belum menemukan solusi apa pun," kata Sringatin, yang juga koordinator Jaringan Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong, seperti dikutip Straits Times, Kamis (11/4/2019].

Sementara Luky Setyarini, seorang insinyur perangkat lunak Indonesia yang tinggal di Bonn, Jerman, juga menghadapi hambatan untuk menggunakan hak pilihnya karena kertas suara yang dikirim melalui pos belum diterima.

Luky Setyarini sudah terdaftar untuk memberikan suara dan diberi tahu bahwa dia akan melakukan pemungutan suara melalui surat suara yang dikirim via pos.

Namun, setelah PPLN Frankfurt mengumumkan bahwa semua surat suara telah didistribusikan, Luky Setyarini dan keluarganya menyadari bahwa mereka belum menerima surat suara yang dikirim via pos.

"Kami telah mengecek ke PPLN dan perusahaan jasa pengiriman tentang surat suara itu, dan mereka mengkonfirmasi bahwa surat suara itu sudah dikirim ke alamat saya. Tapi tidak ada orang di rumah yang pernah bertemu dengan pengirim, apalagi menerima surat-surat itu," kata Luky Setyarini.

Hal itu membuat Luky Setyarini khawatir tak dapat berpartisipasi dalam Pemilu 2019. Dia bersama suaminya masih akan berupaya memeriksa gudang layanan pengiriman untuk melacak keberadaan surat suara bagi keluarga mereka.

"Saya kecewa karena saya mungkin kehilangan kesempatan untuk memilih. PPLN mengatakan saya terdaftar sebagai pemilih melalui surat," ujar Luky Setyarini.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) PPLN, Wajid Fauzi, mengatakan pihaknya telah menerima laporan tentang kendala yang dihadapi para pemilih di LN dan menginstruksikan komite pemilihan luar negeri untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sehingga tidak ada orang Indonesia kehilangan hak mereka untuk memilih.

Dia mengungkapkan, pemilu di LN telah berlangsung dengan lancar di beberapa negara, antara lain di Thailand, Yaman, Ekuador dan Panama. Di Singapura, pemilih akan memberikan suara mereka di kedutaan Indonesia pada hari Minggu.

“Sekitar 50 TPS akan didirikan untuk menampung penyaluran suara dari sekitar 127.000 pemilih terdaftar. Ada lebih dari 200.000 warga negara Indonesia yang tinggal atau bekerja di Singapura,” kata Wajid Fauzi.

Dia berharap partisipasi untuk pemilihan ini akan meningkat menjadi lebih dari 50 persen, atau lebih tinggi dari pemilihan presiden 2014, yang meningkat 35% dari Pemilu 2009. Partisipasi untuk pemilihan legislatif, yang juga diadakan pada tahun yang sama, adalah 22 persen.

"Diharapkan bahwa partisipasi pemilih LN akan lebih tinggi karena meningkatnya antusiasme terhadap penyelenggaraan pemilu serentak pertama di Indonesia," kata Wajid Fauzi.



Sumber: Straits Times/Suara Pembaruan