Kepala Dewan Militer Sudan Mundur

Kepala Dewan Militer Sudan Mundur
Wakil Presiden pertama Sudan, Letnan Jenderal Awad Mohamed Ahmed Ibn Ouf, saat menghadiri KTT Liga Arab ke-30 di Tunis, Tunisia, 31 Maret 2019. Awad Mohamed Ahmed Ibn Ouf menjadi Kepada Dewan Militer Sudan yang memimpin kudeta terhadap Presiden Omar al-Bashir dan mengambil alih pemerintahan transisi, namun mengumumkan pengunduran diri pada Jumat (12/4/2019). ( Foto: AFP / Feth Belaid )
Jeany Aipassa / JAI Sabtu, 13 April 2019 | 13:46 WIB

Khartum, Beritasatu.com - Kepada Dewan Militer Sudan, Letnan Jenderal (Letjen) Awad Mohamed Ahmed Ibn Ouf, menyatakan mundur dari jabatannya pada Jumat (12/4/2019), hanya berselang sehari setelah memimpin kudeta menggulingkan Presiden Omar al-Bashir.

Letjen Awad Mohamed Ahmed Ibn Ouf yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Sudan, sebelumnya mengumumkan mengambil alih kekuasaan pemerintahan transisi di bawah kepemimpinan Dewan Militer Sudan, setelah penggulingan Omar al-Bashir, pada Kamis (11/4/2019).

Namun protes massal yang menuntut perombakan pemerintahan total tanpa menyertakan orang-orang dari rezim pemerintahan Omar al-Bashir, membuat Awad Mohamed Ahmed Ibn Ouf akhirnya memutuskan mundur dari jabatannya sebagai Kepala Dewan Militer Sudan.

Dalam pengumuman pengunduran dirinya, Awad Mohamed Ahmed Ibn Ouf juga mengatakan bahwa dia telah menunjuk Letjen Abdel Fattah al-Burhan Abdelrahman sebagai Kepala Dewan Militer. Abdel Fattah al-Burhan Abdelrahman sebelumnya menjabat sebagai inspektur jenderal Angkatan Bersenjata Sudan.

“Saya mundur dari posisi ini untuk memilih seseorang yang keahlian, kompetensi, serta manajemennya dapat dipercaya. Dan saya yakin dia akan membawa kapal (pemerintahan transisi, red) ke pantai yang aman,” ujar Awad Mohamed Ahmed Ibn Ouf.

Beberapa jam setelah pengumuman pengunduran dirinya, stasoun televisi pemerintah menayangkan berita dan rekaman video pelantikan Abdel Fattah al-Burhan Abdelrahman sebagai Kepala Dewan Militer yang akan memimpin pemerintahan transisi setelah penggulingan Presiden Omar al-Bashir.

Sebelumnya, Dewan Militer Sudan menyatakan keadaan darurat setelah penggulingan Presiden Omar al-Bashir, dan mengambil alih pemerintahan transisi yang akan berlangsung selama dua tahun. Dewan Militer Sudan juga memberlakukan jam malam dan meminta rakyat untuk mengakhiri aksi demonstrasi menentang pemerintahan Omar al-Bashir.

Namun pernyataan Dewan Militer Sudan tidak digubris rakyat yang terus melakukan aksi demonstrasi meski jam malam diberlakukan. Mereka juga menuntut semua orang yang terlibat dalam rezim Presiden Omar al-Bashir untuk mundur.



Sumber: New York Times/Al Jazeera/Suara Pembaruan