Saudi Tawarakan Jutaan Dolar Sebelum Serangan Haftar ke Tripoli

Saudi Tawarakan Jutaan Dolar Sebelum Serangan Haftar ke Tripoli
Pasukan yang mendukung Pemerintah Libia berpatroli menggunakan tank seusai serangan udara di Wadi Ribe, sekitar 30 kilometer bagian selatan Kota Tripoli, Libia, Jumat (12/4/2019). ( Foto: AFP / Mahmud Turkia )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Sabtu, 13 April 2019 | 14:01 WIB

Riyadh, Beritasatu.com - Arab Saudi disebut menawarkan puluhan juta dolar beberapa hari sebelum serangan jenderal pemberontak Khalifa Haftar ke Tripoli, Libia. Tawaran itu disampaikan Saudi saat kunjungan Haftar ke Riyadh menjelang dimulai serangan militernya pada 4 April 2019.

Informasi itu diungkapkan oleh surat kabar Amerika Serikat (AS), The Wall Street Journal, yang mengutip para penasihat senior pemerintah Saudi, menyebut bahwa Haftar menerima tawaran itu untuk menyuap para pemimpin suku, merekrut, dan membayar para pejuang, serta tujuan militer lainnya.

“Kami cukup murah hati,” kata penasihat yang tidak mau disebutkan namanya, di Riyadh, Arab Saudi, Jumat (12/4/2019).

Konflik terbaru di negara Afrika Utara itu terjadi antara pasukan Haftar, Tentara Nasional Libya (LNA) melawan pasukan yang didukung Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA).

GNA menguasai wilayah Tripoli, yang terletak di barat laut Libii, sedangkan LNA bersekutu dengan pemerintahan tandingan di sebelah timur negara itu.

PBB, yang telah menyerukan gencatan senjata, berharap bisa menyelenggarakan konferensi nasional bulan ini agar pemerintahan yang berseteru di timur dan barat bersama-sama menggelar pemilihan umum. AS, blok negara maju G7, dan Uni Eropa juga mendesak LNA untuk menahan serangannya.

Berdasarkan data terakhir PBB, setidaknya 75 orang tewas dalam pertempuran antara kedua pihak dan 320 orang lainnya terluka. Sekitar 9.500 orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Beberapa negara di Timur Tengah termasuk Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) telah mendukung Haftar sebagai benteng untuk melawan kelompok-kelompok Islam, khususnya Persaudaraan Muslim, yang mengambil peran penting di Libia setelah pemberontakan tahun 2011 dan melanjutkan partisipasinya dalam politik Libia di bawah pemerintahan Tripoli.

“Jelas ada peningkatan hubungan, tapi bukan perubahan dalam peran politik. Saya pikir Arab Saudi ingin meningkatkan partisipasi dalam konflik di Libya dan mungkin berkontribusi pada kunjungan Jenderal Haftar ke kerajaan dan pertemuannya baik dengan Raja Salman dan putra mahkota,” kata Direktur Eksekutif dari Pusat Arab di Washington DC, Khalil Jahshan.

Menurut Khalil Jahshan, Haftar sekembalinya dari Saudi telah meningkatkan peran dan konfrontasinya dengan para pesaingnya. “Jadi jelas dia mendapatkan dorongan politik pertama-tama, dan saya yakin setelahnya dia mendapat dukungan keuangan dan militer, meskipun belum tentu (Saudi) satu-satunya pihak di Teluk atau Timur Tengah yang mendukung Haftar selama beberapa tahun terakhir,” ujar Khalil Jahshan.

Selama kunjungannya ke Saudi, Haftar bertemu Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, serta kepala intelijen dan menteri luar negeri. Namun, berita itu belum dikonfirmasi oleh pemerintah Saudi atau juru bicara Haftar.



Sumber: Suara Pembaruan