Pemerintah Dituding Abaikan Peringatan Serangan Bom Sri Lanka

Pemerintah Dituding Abaikan Peringatan Serangan Bom Sri Lanka
Polisi melakukan penyelidikan setelah ledakan bom di Sri Lanka. ( Foto: AFP )
Natasia Christy Wahyuni / Jeanny Aipassa / JAI Senin, 22 April 2019 | 13:41 WIB

Kolombo, Beritasatu.com - Pemerintah dituding mengabaikan peringatan dini terkait ancaman serangan bom di sejumlah gereja dan hotel besar di Sri Lanka, yang terjadi bertepatan dengan perayaan Paskah, Minggu (21/4/2019).  

Tudingan itu datang setelah memo intelijen mengenai rencana serangan bom tersebut, beredar di media sosial. Memo tersebut telah disampaikan kepada pemerintah pada 11 April 2019, atau 10 hari sebelum serangan bom tragis yang telah menewaskan sekitar 290 orang.

Memo berjudul “Informasi tentang dugaan rencana serangan” tertanggal 11 April 2019 itu, ditandatangani oleh Wakil Inspektur Jenderal Polisi, Priyalal Dissanayake. Peringatan itu mengindikasikan akan ada pengebom bunuh diri yang menargetkan empat hotel, tiga gereja dan satu rumah menjelang perayaan Paskah

AFP melaporkan ada satu dokumen intelijen yang menunjukkan bahwa Kepala Kepolisian Sri Lanka, Pujuth Jayasundara, sebenarnya sudah mengirimkan peringatan kepada presiden dan para pejabat tinggi Sri Lanka, sepuluh hari lalu.

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremsinghe, memastikan bahwa pemerintah sudah mengetahui "informasi awal mengenai ledakan tersebut. Namun saat ditanya mengapa tak ada tindakan antisipasu, Wickremsinghe mengatakan bahwa pemerintah harus menelaah terlebih dulu cara terbaik untuk menggunakan informasi tersebut.

Sejumlah pihak mempertanyakan mengapa pemerintah tidak membuat langkah pencegahan, sehingga serangan bom tersebut menelan banyak korban jiwa. Pihak gereja-gereja yang menjadi serangan teror juga mengaku tidak mendapat peringatan dini.

“Ada penundaan dalam melakukan tindakan. Tindakan serius harus dilakukan untuk menyelidiki mengapa peringatan itu diabaikan,” kata Menteri Telekomunikasi Sri Lanka, Harin Fernando, seperti dilansir media Express dan Colombo Page pada Senin (22/4/2019), 22 April 2019.

Sebelumnya pada Minggu (21/4/2014), Presiden Sri Lanka, Maithripaka Sirisena, dalam pidatonya mengatakan, sangat terkejut dengan serangkaian ledakan bom di negeri itu dan meminta rakyat untuk tenang.

Ketenangan Perayaan Paskah di Sri Lanka dihancurkan oleh serangkaian serangan bom yang terjadi di tiga gereja dan sejumlah hotel pada Minggu (21/4/2019). Laporan pertama ledakan bom disampaikan sekitar pukul 08.45 waktu setempat, yakni enam kali ledakan dalam jeda waktu singkat.

Tiga gereja di Negombo, Batticaloa, dan distrik Kochchikade ditargetkan selama ibadah Paskah. Tiga ledakan lain terjadi di hotel-hotel mewah yaitu Shangri-La, Kingsbury, dan Cinnamon Grand di Kolombo. Selain itu, ada satu ledakan menghantam di dekat kebun binatang Dehiwala, selatan Kolombo, dan ledakan kedelapan dilaporkan terjadi di dekat distrik Kolombo, Dematagoda, selama penggrebekan polisi.

Sejumlah saksi mata mengatakan ledakan bom berkekuatan besar karena mampu merobohkan atap bangunan gereja dan menghancurkan jendela hotel. Gambar dan potongan video yang beredar memperlihatkan bangku berlumuran darah, pecahan kaca, dan gumpalan asap.



Sumber: Suara Pembaruan/Berbagai Sumber