Pemuda Katolik Kecam Aksi Terorisme di Sri Lanka

Pemuda Katolik Kecam Aksi Terorisme di Sri Lanka
Setidaknya enam ledakan dilaporkan dari tiga gereja pada Minggu Paskah (21/4/2019). ( Foto: Indian Express / Dokumentasi )
Asni Ovier / AO Selasa, 23 April 2019 | 23:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pemuda Katolik mengecam aksi terorisme yang menewaskan 310 orang di Sri Lanka saat perayaan Paskah, Minggu (21/4/2019). Pemuda Katolik mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya pengurus dan anggota organisasi itu untuk meningkatkan kewaspadaan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa mengatakan, aksi peledakan bom di Sri Lanka telah mengusik rasa kemanusiaan kita yang memiliki harkat dan martabat sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak asasi untuk hidup dan berkembang.

“Pemuda Katolik mengutuk keras aksi teror yang sangat keji dan biadab tersebut, serta menyatakan bahwa aksi teror ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata Karolin dalam pernyataan yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Karolin juga mengatakan, pihaknya menyatakan duka cita yang mendalam serta keprihatinan dan simpati kepada para korban yang meninggal dunia dan luka-luka dalam serangan terror tersebut. Pihaknya berharap, pemangku otoritas di Sri Lanka dapat segera mengungkap pelaku aksi teror tersebut hingga tuntas.

Pemuda Katolik juga meminta Pemerintah Indonesia melakukan langkah-langkah diplomatis dalam turut serta membantu memulihkan situasi di Sri Lanka. Pemerintah juga harus memastikan apakah terdapat WNI dalam kejadian peledakan bom tersebut.

Menurut Karolin, pihaknya mendukung penuh pemerintah, Polri, dan TNI dalam mencegah serta melawan terorisme. Aparat juga harus melakukan tindakan yang tegas untuk mencegah terjadinya aksi teror serupa di Tanah Air.

“Pemuda Katolik menginstruksikan kepada seluruh pengurus dan anggota di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dan berkoordinasi dengan pimpinan gereja, pemerintah dan aparat terkait di setiap wilayah atau tingkatan jika ada hal-hal yang mencurigakan dan mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.

Seperti diketahui, aksi teror bom di gereja dan hotel di Sri Lanka itu telah menewaskan 310 orang serta sekitar 500 orang luka-luka. Korban tewas tidak hanya warga lokal, tetapi juga warga negara asing. Aksi teror terjadi saat umat Nasrani di Sri Lanka melaksanakan ibadah Paskah. Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas tindakan yang diduga sebagai aksi bom bunuh diri itu.



Sumber: BeritaSatu.com