Myanmar Bebaskan 2 Wartawan Reuters

Myanmar Bebaskan 2 Wartawan Reuters
Wartawan Reuters Wa Lone (kiri) dan Kyaw Soe Oo berjalan di luar penjara Insein setelah menerima amnesti presiden di Yangon, Myanmar, 7 Mei 2019. ( Foto: Reuters )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 7 Mei 2019 | 17:27 WIB

Yangon, Beritasatu.com - Dua wartawan Reuters yang dipenjara akibat pemberitaan tentang krisis Rohingya di Myanmar akhirnya keluar dari penjara Selasa, (7/5/2019), berkat amnesti presiden yang dikeluarkan setelah tekanan global terhadap kasus tersebut.

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo dibebaskan dari penjara Insein di Yangon, lebih dari 16 bulan setelah ditahan.

Mereka ditahan pada Desember 2017 dan penangkapan itu justru menjadikan mereka simbol perlawanan dan menunjukkan ancaman kebebasan pers di Myanmar, yang dipimpin pemenang Nobel perdamaian Aung San Suu Kyi.

Wa Lone, 33, menyampaikan terima kasihnya kepada masyarakat di "seluruh dunia" yang menuntut pembebasan mereka berdua, dan bertekad akan segera kembali bekerja.

"Saya tidak sabar untuk kembali ke ruang redaksi," ujarnya. "Saya seorang jurnalis dan akan terus melanjutkannya."

Pemimpin Redaksi Reuters Stephen Adler menyampaikan rasa syukurnya atas pembebasan "dua wartawan kami yang berani."

"Sejak penangkapan mereka 511 hari yang lalu, mereka telah menjadi simbol pentingnya kebebesan pers di seluruh dunia. Kami menyambut kepulangan mereka," ujarnya.

Dua wartawan itu dibebaskan atas dasar amnesti yang diberikan kepada lebih dari 6.000 narapidana.

Juru bicara pemerintah Myanmar, Zaw Htay, mengatakan keluarga dua wartawan itu telah mengirim surat kepada Suu Kyi dan President Win Myint.

"Setelah para pemimpin mempertimbangkan kepentingan jangka panjang bagi negeri ini, dua jurnalis Reuters itu dibebaskan," kata Zaw Htay.

Dua wartawan itu sebelumnya divonis bersalah melanggar rahasia negara dan masing-masing dihukum tujuh tahun penjara.

Saat ditangkap, mereka sedang meliput kasus pembunuhan 10 Muslim Rohingya pada September 2017 di negara bagian Rakhine, di mana tentara Myanmar mengusir sekitar 740.000 orang dari kelompok minoritas ke perbatasan Bangladesh.

Menurut Reuters, mereka dipenjara sebagai pembalasan atas berita yang mereka buat.

Ketika dipenjara, Wa Lone tidak bisa menemani istrinya melahirkan putri mereka.

April kemarin, mereka berdua mendapat penghargaan jurnalistik paling prestisius, Pulitzer Prize. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo juga pernah muncul di sampul majalah TIME.



Sumber: AFP