Trump Beri Sanksi Baru pada Industri Logam Iran

Trump Beri Sanksi Baru pada Industri Logam Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berpidato di Konferensi Bersama Asosiasi Sheriff Kota Besar dan Kepala Kota Besar, di Washington, Rabu (13/2). (Foto: Dok SP)
/ WBP Kamis, 9 Mei 2019 | 10:12 WIB

Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (8/5/2019) memberikan sanksi baru terhadap Iran. Kali ini menargetkan pendapatan ekspor Republik Islam itu dari sektor logam industri, dan berjanji untuk terus menekan Teheran kecuali jika Iran secara fundamental mengubah kebijakannya.

Pengumuman itu dibuat pada hari peringatan penarikan unilateral Amerika Serikat (AS) dari kesepakatan penting 2015 antara Teheran dan kekuatan dunia untuk mengekang program nuklirnya, dengan imbalan meringankan beberapa sanksi. Pengumuman juga beberapa jam setelah Teheran mengatakan tidak lagi sepenuhnya mematuhi perjanjian itu.

Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat ketika pemerintahan Trump mengatakan akhir pekan lalu bahwa pihaknya mengerahkan armada kapal induk dan pesawat pembom ke Timur Tengah, sebagai tanggapan atas apa yang dikatakannya "indikasi dan peringatan yang mengganggu" dari Iran.

Sebelum perintah Trump terkait sanksi, seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan Washington akan memberlakukan lebih banyak pembatasan ekonomi di Teheran "segera" dan telah memperingatkan Eropa untuk berhenti melakukan bisnis dengan Republik Islam itu.

"Tindakan hari ini menargetkan pendapatan Iran dari ekspor logam industri -10 persen dari ekspornya - dan membuat negara-negara lain memperhatikan bahwa mengizinkan baja dan logam lain Iran ke pelabuhan Anda tidak akan lagi ditoleransi," kata Trump dalam sebuah pernyataan.

"Teheran dapat mengharapkan tindakan lebih lanjut kecuali secara fundamental mengubah perilakunya," ujar Trump.

Pemerintahan Trump mengatakan kesepakatan nuklir, yang dinegosiasikan oleh pendahulunya Barack Obama, cacat karena tidak permanen, tidak membahas program rudal balistik Iran dan tidak menghukumnya karena melancarkan perang proxy di negara-negara Timur Tengah lainnya.

Beberapa jam sebelum sanksi baru AS, Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan Teheran mengurangi pembatasan program nuklirnya dengan langkah-langkah yang untuk saat ini berhenti melanggar perjanjian 2015. Tapi pihaknya mengancam tindakan lebih lanjut jika negara-negara tidak melindunginya dari sanksi.



Sumber: Reuters, Antara