Iran Tak Ingin Perang dengan AS

Iran Tak Ingin Perang dengan AS
Pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei. ( Foto: AFP / AFP )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 16 Mei 2019 | 14:59 WIB

Teheran, Beritasatu.com - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, menyatakan negaranya tidak menginginkan perang, termasuk dengan Amerika Serikat (AS), karena akan menghancurkan kawasan Timur Tengah.

Pernyataan itu, disampaikan Ayatollah Khamenei, saat mengadakan pertemuan darurat dengan para elit politik negara itu, termasuk Presiden Iran, Hassan Rouhani dan Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani, di Teheran, Rabu (15/5/.2019).

Ayatollah Khamenei menampik kemungkinan bahwa AS dan Iran akan berperang, dengan menyatakan bahwa AS sangat memahami bahwa konflik semacam itu tidak akan memenuhi kepentingan AS di Timur Tengah, setelah penarikan pasukan AS dari pertempuran di Suriah.

Pada kesempatan itu, Ayatollah Khamenei, juga menegaskan kembali pendiriannya bahwa dialog dengan pemerintah AS mengenai program nuklir Iran, bukanlah sebuah pilihan terbaik dalam waktu dekat.

Ayatollah Khamenei bahkan memuji program nuklir Iran yang telah disesuaikan dengan kepentingan negara dan persyaratan dalam Perjanjian Nuklir Iran yang ditandatangani pada 2015.

"Selama Amerika Serikat seperti sekarang, negosiasi hanyalah racun, dan dengan pemerintahan (Amerika Serikat, AS) saat ini, racun itu dua kali (lebih mematikan, red)," kata Ayatollah Khamenei, di Teheran, Iran, Rabu (15/5/2019).

Meski demikian, Khamenei mengakui bahwa tekanan dari AS yang keluar dari Perjanjian Nuklir Iran pada Mei 2018, telah membawa kesulitan pada kondisi perekonoian Iran, terutama terhadap warga miskin dan kelas menengah. Namun Ayatollah Khamenei menolak gagasan bahwa ekonomi Iran berada dalam kondisi menemui jalan buntu.

“Amerika benar, ketika mereka menyebut bahwa sanksi yang diberikan belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi perlu kami tegaskan bahwa Republik Islam Iran adalah logam yang kuat,” ujar Ayatollah Khamenei.

Pidato Ayatollah Khamenei adalah reaksi publik pertamanya terhadap tekanan AS, termasuk pengiriman kapal perang AS baru-baru ini ke kawasan Teluk, yang memicu spekulasi bahwa kedua pihak semakin mendekati perang.

Kelompok garis keran Iran bangga dengan pernyataan Khamenei, dan menafsirkannya sebagai tanda kekuatan Iran dalam melawan tekanan AS.

"Ini adalah pertama kalinya dalam 230 tahun terakhir bahwa kita menghadapi negara adikuasa yang tidak memiliki keberanian untuk serangan militer terhadap Iran," tulis Abdollah Ganji.

Namun pesimisme masih berlaku di kalangan kritikus Republik Islam Iran, yang berpendapat bahwa konfrontasi terus-menerus tidak akan menguntungkan Iran.

"Tidak akan ada perang, tidak ada pembicaraan, tetapi kami akan mati kelaparan," tulis seorang pengguna Twitter, merujuk pada kesulitan ekonomi Iran.

Per 15 Juni 2015, Iran juga mulai meninggalkan persyaratan dalam Perjanjian Nuklir Iran, yang antara lain membatasi cadangan uranium negara itu.

Tasnim, sebuah kantor berita konservatif, melaporkan bahwa Organisasi Energi Atom Iran kini telah mulai mempraktikkan tindakan-tindakan untuk meningkatkan cadangan uranium Iran yang telah diratifikasi oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Di bawah pengaturan baru, Iran tidak akan lagi mematuhi batas pada persediaan uranium yang diperkaya rendah, yang sebelumnya harus diekspor setelah melebihi batas 300 kilogram pada uranium hexafluoride. Terkait persediaan air beratnya, Iran tidak akan lagi berkomitmen untuk mengirimkan kelebihan air untuk penyimpanan di Oman ketika melewati ambang batas 130 ton.



Sumber: Suara Pembaruan/Al Jazeera/CNN