Perusahaan Teknologi Berkomitmen Lawan Ekstremisme

Perusahaan Teknologi Berkomitmen Lawan Ekstremisme
Presiden Prancis, Emmanuel Macron (kedua, kiri) didampingi Perdana Menteri Australia, Jacinda Ardern (kiri), dan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (kedua, kanan), menyampaikan pernyataan bersama ‚ÄúChristianchurch Calling‚ÄĚ, seusai pertemuan di Paris, Prancis, Rabu (15/5/2019). ( Foto: AFP / CHARLES PLATIAU )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 16 Mei 2019 | 15:08 WIB

Paris, Beritasatu.com - Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi dan pemimpin dunia berkomitmen memberantas konten ekstrimisme di internet dan media sosial (medsos), setelah melakukan pertemuan di Paris, Prancis, Rabu (15/5/2019).

Komitmen itu tertuang dalam pernyataan bersama yang disebut “Christchurch Calling” atau “Seruan Christchurch”, mengacu pada dorongan dari pemimpin dunia terkait tindakan pencegahan pascatragedi penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menewaskan sedikitnya 50 orang, pada 15 Maret 2019.

Terkait dengan tragedi itu, sejumlah pemimpin dunia mengadakan pertemuan dengan para eksekutif dari Google, Twitter, Facebook, dan Microsoft, di Paris, Rabu (15/5/2019), untuk membahas pencegahan terhadap konten ekstremisme melaui internet dan media sosial.

Hadir dalam pertemuan itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang bertindak sebagai tuan rumah. Selain itu, hadir pula Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, PM Kanada, Justin Trudeau, dan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla.

Pemimpin dunia dan pemimpin perusahaan teknologi tersebut, kemudian menyepakati “Seruan Christchurch” yang menjadi bentuk komitmen dari perusahaan-perusahaan teknologi dan pemerintah untuk meningkatkan usaha mereka mengatasi konten ekstrimis.

Penyebutan “Christchurch” ditujukan kepada lokasi dari serangan teror di Selandia Baru yang disiarkan secara langsung lewat Facebook.

Sejak tragedi Christchurch, jaringan raksasa media sosial menerima kritik keras karena video aksi penembakkan pelaku diunduh dan dibagikan jutaan kali, meskipun telah berusaha dihapus.

“Seruan itu adalah peta jalan untuk bertindak. Itu mengikat kita semua untuk membangun internet yang lebih manusiawi yang tidak dapat disalahgunakan oleh teroris untuk tujuan kebencian mereka,” kata Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern saat konferensi pers dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, di Paris, Rabu.

Kemudian perusahaan teknologi Google, Microsoft, Facebook, Twitter, dan Amazon mengeluarkan rencana sembilan poin untuk bersama-sama menuangkan janji Christchurch itu ke dalam gerakan, khususnya untuk mengatasi ancaman dari siaran langsung (livestreaming).

Mereka menjanjikan investasi dalam “sidik jari digital” untuk melacak dan menghapus gambar-gambar dan video berbahaya, serta metode yang mudah digunakan bagi para pengguna untuk melaporkan konten terlarang.

“Ini mengarah kepada tindakan nyata dan saya pikir itu dapat memainkan peran penting setidaknya mencegah sejumlah serangan semacam ini. Tidak seorang pun ingin melihat pemakaian internet sebagai pentas untuk kekejaman teroris semacam ini,” kata presiden Microsoft dan kepala kantor hukum, Brad Smith.

“Seruan Christchurch” menyatakan komitmen yang bersifat kolektif dan sukarela dari pemerintah dan perusahaan-perusahaan internet, untuk mengimplementasikan peraturan yang mencegah konten extremisme di internet dan media sosial.



Sumber: Suara Pembarua/[AFP/BBC/Reuters