10 Juta Warga Korut Hadapi Kekurangan Pangan

10 Juta Warga Korut Hadapi Kekurangan Pangan
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 16 Mei 2019 | 15:23 WIB

Pyongyang, Beritasatu.com - Sedikitnya 10 juta warga Korea Utara (Korut) menghadapi ancaman kekurangan pangan akibat bencana kekeringan terparah yang dialami negara itu dalam empat dekade terakhir.

Kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA), curah hujan dalam lima bulan terakhir sangat rendah, rata-rata 54,4 milimeter curah. Itu artinya curah hujan tersebut merupakan tingkat terendah sejak 1982, saat Korut mengalami kekeringan dengan curah hujan rata-rata 51,2 milimeter.

Pada Februari 2019, Duta Besar Korut untuk PBB, Kim Song, mengeluarkan permohonan yang tidak biasa untuk bantuan pangan. Para pejabat Korut menyalahkan kekurangan pangan kepada cuaca buruk dan sanksi-sanksi ekonomi internasional yang diperketat setelah negara itu menggelar serangkaian uji nuklir dan senjata dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam pertemuan tingkat tinggi di Vietnam pada Februari lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak seruan pemimpin Korut Kim Jong-un untuk melonggarkan sanksi sebagai imbalan atas pembongkaran kompleks utama nuklir.

KCNA menyebut kekeringan diperkirakan akan terus berlanjut sampai akhir Mei 2019. Surat kabar Korut, Rodong Sinmun, melaporkan, Rabu (15/5/2019), bahwa para pejabat dan pekerja berusaha menemukan sumber-sumber air baru serta memobilisasi pompa-poma dan peralatan irigassi untuk meminimalisasi kerusakan kepada pertanian.

Korut pernah menderita kelaparan hebat pada pertengahan tahun 1990-an yang diperkirakan menewaskan ratusan ribu rakyatnya. Laporan pasti mengenai hal itu tidak pernah terpublikasi karena ketertutupan negara komunis itu.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akan bertemu dengan Presiden Korsel Moon Jae-in sebagai bagian dari perjalanannya ke Asia untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20, pada akhir Juni 2019.

“Presiden Trump dan Presiden Moon akan melanjutkan kerja sama erat mereka terhadap upaya untuk mencapai denuklirisasi final dan terverifikasi sepenuhnya dari Republik Demokratik Rakyat Korea (sebutan resmi Korut). Kedua pemimpin juga akan membicarakan cara untuk memperkuat aliansi AS-Republik Korea (Korsel) dan persahabatan diantara kedua rakyatnya,” kata juru bicara Gedung Putih, Sarah Huckabee.

Gedung Putih tidak memberikan tanggal detil atas pertemuan keduanya, tapi menyebut akan bersamaan dengan kunjungan Trump ke Osaka, Jepang, sebagai tuan rumah pertemuan G-20 tahun ini. Pertemuan G-20 sendiri akan digelar tanggal 28-29 Juni 2019. Trump menyatakan akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.



Sumber: Suara Pembaruan/ABC News/thehill.com