Facebook akan Batasi Akses "Live" untuk Ektremisme

Facebook akan Batasi Akses
Presiden Prancis Emmanuel Macron di forum WEF, Davos ( Foto: Beritasatu tv )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 16 Mei 2019 | 15:34 WIB

Paris, Beritasatu.com - Facebook berkomitmen memperketat akses kepada Facebook Live, khususnya menolak layanan kepada para pengguna yang telah berbagi konten ekstrimis.

Cara untuk membatasi penggunaan Facebook Live untuk menyebarkan kekerasan atau ektremisme adalah dengan memperkenalkan kebijakan “satu serangan” untuk pengguna Facebook Live.

Itu berarti membatasi akses bagi orang-orang yang menghadapi tindakan disipliner karena melanggar aturan yang paling serius dari situs itu.

Pelaku pelanggaran pertama kali akan dilarang memakai Facebook Live dalam kurun waktu tertentu. Jangkauan pelanggaran juga akan diperluas untuk kebijakan “satu serangan” itu.

“Tujuan kita adalah tidak pernah lagi melihat internet berubah menjadi mesin propaganda yang gila, tujuaan yang dicari oleh baik teroris dari kanan jauh maupun teroris Islam,” kata Presiden Prancis, Nicolas Macron, di Paris, Rabu (15/5/2019).

Para pemimpin yang hadir dalam pertemuan itu berasal dari Inggris, Kanada, Irlandia, Senegal, Norwegia, dan Indonesia yang diwakili Wakil Presiden Jusuf Kalla. Meskipun perusahaan-perusahaan teknologi berasal dari AS, tapi pemerintah AS sendiri tidak ikut dalam inisiatif tersebut.

Gedung Putih dalam pernyataan remis, Rabu, menyampaikan dukungan terhadap hasil pertemuan para pemimpin dunia dan pemimpin perusahaan teknologi untuk mengantisipasi penyebaran konten ekstremisme. “Kami terus mendukung tujuan keseluruhan,” sebut pernyataan Gedung Putih.

Raksasa teknologi berjanji akan bekerja sama untuk menemukan alat baru yang bisa secara cepat mengidentifikasi dan menghapus konten ekstrimis, seperti saling berbagi basis data akun yang mengirimkan pesan atau gambar-gambar kekerasan agar memastikan konten itu tidak tersebar di berbagai platform medsos.



Sumber: Suara Pembaruajn/AFP