PBB Ancam Tunda Pengiriman Bantuan ke Yaman

PBB Ancam Tunda Pengiriman Bantuan ke Yaman
Seorang pekerja Palang Merah Internasional memantau distribusi logistik bantuan di bandara, Yaman. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 21 Mei 2019 | 21:30 WIB

New York, Beritasatu.com- Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengancam akan menunda pengiriman bantuan untuk ribuan rakyat miskin Yaman setelah laporan dari media Amerika Serikat (AS), CNN, terkait adanya pencurian atau “pengalihan” bantuan makanan oleh para pemberontak Houthi.

Ketua Program Pangan Dunia di bawah PBB atau World Food Programme (WFP), David Beasley, mengatakan makanan senilai lebih dari US$ 15 juta (Rp 216,9 miliar) ternyata tidak sampai kepada para pengungsi yang membutuhkan. Akibatnya, anak-anak sekarat dan lembaga itu harus berjuang mencari terobosan.

Investigasi CNN mengenai situasi di dalam Yaman memperlihatkan dokumen-dokumen mencatat keluarga menerima bantuan namun mereka mengaku tidak mendapatkannya. Seluruh desa juga tidak mendapat pasokan bantuan di tengah perselisihan antara WFP dan pemberontak Houthi yang menguasi sebagian besar negara itu.

Beasly mengatakan sasaran WFP adalah memberi makan 12 juta warga Yaman pada 2019 atau hampir setengah dari populasi. Tapi, pencurian bantuan secara terus-menerus bisa berarti harus menghentikan penyaluran jika tidak bisa diawasi.

“Jika kita tidak mempunyai terobosan, kami akan menghentikan operasi kami di beberapa wilayah yang menjadi perhatian kami,” kata Beasly.

Beasly mendesak kepada pemimpin Houthi agar menghentikan “pengalihan” bantuan atau yang disebutnya “pencurian”.

“Anak-anak tak berdosa saat ini sekarat karena kami tidak bisa memberikan bantuan kepada mereka, karena pengalihan bantuan ini dan kurangnya akses yang kami perlukan,” ujarnya.

Mengenai skala pengalihan bantuan yang dilakukan pemberontak Yaman, Beasly mengatakan hal itu melibatkan banyak uang. Dia mengungkapkan WFP saat ini menerima sekitar US$ 150 juta per bulan (Rp 2 triliun) untuk memberi makan sekitar 10-12 juta orang. Penerima bantuan adalah orang-orang yang berada di ambang kelaparan dan bisa mati tanpa bantuan.

“Jika kami bisa kuat bertahan dan melakukan apa yang benar, harapannya masyarakat internasional bisa menekan kepada kepemimpinan Houthi agar mengizinkan kami melakukan apa yang benar,” kata Beasly.



Sumber: Suara Pembaruan