PM May Mundur, Pemimpin Dunia Sampaikan Reaksi Beragam

PM May Mundur, Pemimpin Dunia Sampaikan Reaksi Beragam
Kombinasi gambar mmperlihatkan Perdana Menteri Inggris Theresa May (kiri) tertawa pada hari pertama menjabat pada 13 Juli 2016 dan Perdana Menteri Inggris Theresa May (kanan) mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri pada 24 Mei 2019. ( Foto: AFP / JUSTIN TALLIS DAN Tolga AKMEN )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 25 Mei 2019 | 20:13 WIB

London, Beritasatu.com- Sejumlah pemimpin dunia, khususnya di Eropa, menyampaikan reaksi beragam atas pengumuman pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May. Momen “impotensi politik” dari mundurnya May dirasakan hampir di seluruh dunia.

May memang mengalami ketidakberdayaan untuk mengantarkan kesepakatan Brexit di dalam negeri. Parlemen telah tiga kali menolak Perjanjian Penarikan yang disepakatinya lewat negosiasi alot dengan Uni Eropa (UE), ditambah munculnya desakan untuk mundur dari partainya sendiri.

Pemimpin oposisi Inggris, Jeremy Corbyn, menyatakan keputusan mundur May sudah tepat. “Dia sekarang menerima apa yang telah diketahui negara ini berbulan-bulan bahwa dia tidak bisa memerintah juga partainya yang telah terpecah belah dan hancur,” kata Corbyn.

“Siapa pun yang akan menjadi pemimpin Tory, sebutan Partai Konservatif, nantinya, harus membiarkan orang-orang memutuskan masa depan negara ini lewat Pemilihan Umum secepatnya,” tandas Corbyn.

Sementara itu, sejumlah politisi senior dari Partai Konservatif menyampaikan penghormatan mereka. Anggota parlemen yang juga komedian, Boris Johnson, menyampaikan terima kasih atas pelayanan May yang tabah kepada Inggris dan Partai Konservatif.

“Sekarang saatnya untuk mengikuti desakannya, datang bersama dan mengantarkan Brexit,” kata Johnson.

Penghormatan Besar

Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, memuji May sebagai “perempuan berani” yang layak mendapatkan penghormatan besar. Juncker menyatakan akan menghormati dan menjalin hubungan kerja dengan siapa pun pemimpin baru Inggris, tapi tetap tidak akan merundingkan ulang kesepakatan Brexit.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merasakan keprihatinan untuk PM May. Trump menyatakan May adalah perempuan baik dan telah bekerja sangat keras, dan dia akan menemuinya saat mengunjungi Inggris awal Juni nanti.

Pemerintah Rusia (Kremlin) menyatakan kepemimpinan May menandai masa sangat sulit untuk hubungan Rusia dan Inggris, ditandai dengan percobaan pembunuhan dan upaya meracuni para pembangkang Rusia di tanah Inggris.

“Tugas May sebagai PM terjadi dalam masa sangat sulit dalam hubungan bilateral kita,” kata juru bicara Presiden Vladimir Putin.

PM Belanda Mark Rutte lewat pesan Twitter, menyatakan kesepakatan yang tercapai antara UE dan Inggris untuk Brexit tetap di atas meja. Sedangkan, PM Irlandia Leo Varadkar mengaku prihatin atas pengunduran diri May.

“Kami bekerja erat dengannya dan timnya untuk Brexit dan Utara,” kata Varadkar lewat pesan di Twitter.



Sumber: Suara Pembaruan