Papua Nugini Perketat Keamanan Pasca Perang Suku

Papua Nugini Perketat Keamanan Pasca Perang Suku
Penari berpakaian tradisional tampil sebelum Pertemuan Tingkat Menteri APEC di International Convention Centre, di Port Moresby, Papua Nugini, Kamis (15/11) ( Foto: Dok SP )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 16 Juli 2019 | 12:10 WIB

Sydney, Beritasatu.com - Otoritas Papua Nugini telah memperketat keamanan untuk mencegah peningkatan lebih lanjut atas kekerasan antarsuku setelah setidaknya 24 orang tewas dalam insiden di daerah pedalaman pada awal bulan ini.

Suku-suku di dataran tinggi negara itu saling berperang selama berabad-abad, tapi penemuan jenazah-jenazah yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, menandai siklus mematikan dari pembunuhan tanpa batas.

Menteri polisi yang baru dilantik, Bryan Kramer, mengatakan intervensi secepatnya diperlukan di Provinsi Hela, yakni wilayah terjal di sebelah barat negara itu, demi mencegah kekerasan berubah sebagai norma baru.

“Pembunuhan tanpa ampun minggu lalu telah mengubah segalanya,” kata Krammer lewat pesan di Facebook, Senin (15/7).

Kramer mengatakan konflik puluhan tahun antara dua kelompok suku telah meningkat setelah pembunuhan seorang anggota suku pada Juni lalu. Peristiwa itu memicu pembantaian kepada perempuan dan anak-anak yang digambarkan sebagai “pembunuhan balas dendam terburuk dalam sejarah negara kami”.

Satu pleton pasukan dan satu regu polisi keliling ditempatkan di sekolah dasar setempat untuk menyediakan keamanan sepanjang waktu. Otoritas juga akan menggunakan teknologi dron dan pengawasan satelit untuk melacak para pelaku yang diyakini telah melarikan diri.

Insiden pembantaian itu mengejutkan rakyat Papua Nugini, termasuk Perdana Menteri (PM) baru James Marape, yang konstituennya berada di wilayah dimana terjadi pembunuhan tersebut. Marape bersumpah akan menemukan para pembunuh dan menjatuhkan hukuman mati yang sudah menjadi hukum negara itu



Sumber: Suara Pembaruan