Mobil Listrik Bisa Perparah Polusi Jika Tidak Didukung Energi Bersih

Mobil Listrik Bisa Perparah Polusi Jika Tidak Didukung Energi Bersih
Pengisian baterai mobil listrik. ( Foto: Antara )
Winda Ayu Larasati / WIN Rabu, 31 Juli 2019 | 19:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Prancis, Norwegia dan Inggris berencana melarang mobil berbahan bakar fosil sebelum 2050. Tujuannya untuk mengurangi polusi udara dan memerangi perubahan iklim.

Upaya penggantian kendaraan konvensional ke kendaraan listrik atau electric vehicles (EVs) tidak berdampak baik pada lingkungan selama mobil listrik masih menggunakan listrik yang dihasilkan dari bahan bakar fosil yang sama kotor.

Pertumbuhan konsumsi listrik global dari mobil listrik diperkirakan tumbuh hingga 1.800 Terawatt hour (TWh) pada 2040 atau sekitar lima kali lipat dari penggunaan listrik Inggris saat ini.

Listrik yang digunakan mobil listrik akan menambah 510 megaton emisi karbon yang berasal dari sektor listrik di seluruh dunia. Dampak besar itu dapat dikurangi jika listrik seluruhnya dihasilkan dari sumber energi terbarukan, bukan bahan bakar fosil.

Dilansir dari The Conversation, sebanyak 510 Megaton atau setara 1,6 persen emisi karbon global pada 2018. Sementara angka tersebut belum tampak seperti jumlah besar. Panel para ilmuwan untuk perubahan iklim (IPCC) merekomendasikan agar emisi karbon berkurang hingga nol pada 2050 untuk membatasi kenaikan suhu global rata-rata hingga 1,5 derajat Celcius di atas pada masa pra-industri.

Peningkatan 1,6 persen dalam emisi karbon adalah hal serius dan kemungkinan menjadi masalah besar.

Peningkatan tersebut dapat teratasi dengan penurunan emisi yang dihasilkan dari penghapusan kendaraan berpolusi secara bertahap.

Walau begitu, mengurangi emisi karbon global tidak mudah. Kenyataannya, emisi mencapai titik tertinggi meskipun tingkat penggunaan energi terbarukan juga yang tertinggi pada 2018.



Sumber: The Conversation