Persiapkan Brexit, Inggris Boikot Sebagian Besar Pertemuan UE

Persiapkan Brexit, Inggris Boikot Sebagian Besar Pertemuan UE
Demonstran penentang Brexit mengadakan aksi unjuk rasa menuntut referendum kedua Brexit, di London, Minggu (24/3/2019). ( Foto: Istimewa )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Rabu, 21 Agustus 2019 | 21:21 WIB

London, Beritasatu.com- Para menteri dan pejabat Inggris akan memboikot sebagian besar pertemuan Uni Eropa (UE) mulai 1 September 2019. Mereka akan menggunakan “jumlah waktu yang luar biasa” untuk berfokus kepada hubungan masa depan dengan UE dan negara-negara lain, termasuk kesepakatan perdagangan.

Para menteri hanya akan menghadiri pertemuan-pertemuan besar yang mencakup kepentingan mendasar seperti keamanan, sedangkan sisanya akan diabaikan. Ini pesan yang jelas untuk menunjukkan keseriusan Inggris keluar dari UE pada akhir Oktober 2019.

“Sejumlah waktu yang luar biasa dan upaya untuk menghadiri pertemuan-pertemuan UE hanya puncak dari gunung es,” kata Menteri Brexit Steve Barclay di London, Selasa (20/8).

Barclay mengatakan para pejabat Inggris sedang menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan diri, baik membaca dokumen yang dibutuhkan atau melakukan diskusi singkat terkait persiapan Brexit.

“Sejak saat ini kami hanya akan pergi ke pertemuan-pertemuan yang benar-benar penting, mengurangi kehadiran setengah lebih acara dan menghemat ratusan jam,” ujarnya.

“Ini akan memberikan kelonggaran waktu bagi para menteri dan pejabat untuk mempersiapkan keberangkatan kami pada 31 Oktober dan mengambil peluang di depan,” tambah Barclay.

Dengan sisa 72 hari menjelang Brexit, banyak diskusi dalam pertemuan di UE membahas tentang masa depan UE setelah ditinggalkan Inggris. Ini membuat partisipasi Inggris dalam banyak pertemuan di UE menjadi tidak relevan.

Para pejabat Inggris menyatakan persiapan Brexit, kesepakatan perdagangan baru, dan mempromosikan “Inggris Global” sebagai prioritas utama negara itu saat ini. Sumber-sumber pemerintah menyatakan keputusan itu bukan untuk menggagalkan fungsi UE, tapi mencerminkan realitas dari keberangkatan segera Inggris.



Sumber: Suara Pembaruan