Hadiri G-7 di Prancis, Trump Seperti Terisolasi

Hadiri G-7 di Prancis, Trump Seperti Terisolasi
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) menyambut kedatangan Presiden AS Donald Trump (kedua dari kanan) yang ditemani Melania Trump (kiri) dan Brigitte Macron di Biarritz, barat daya Prancis, menjelang KTT G7, 24 Agustus 2019. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Minggu, 25 Agustus 2019 | 04:01 WIB

Paris, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di wilayah resor Biarritz, Prancis, Sabtu (24/8/2019) untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 dengan membawa ancaman tarif untuk tuan rumah dan keputusan untuk melanjutkan perang dagang dengan Tiongkok.

Trump tidak menyukai forum-forum multilateral seperti G7 ini, karena lebih menekankan kebijakan "America first" dan kemampuannya sendiri dalam melakukan kesepakatan empat mata atas pengalamannya sebagai pengusaha real estate.

Menjelang KTT di wilayah pantai Prancis tersebut, dia sudah mengkritik sebagian besar mitranya di forum ini, berdebat soal Iran, perdagangan, pemanasan global, dan Brexit.

Dan sehari sebelum berangkat, dia menepis kekhawatiran terjadinya perlambatan ekonomi global akibat saling balas pengenaan tarif dengan Tiongkok, dan menegaskan "kami akan menang".

Juga sebelum masuk helikopter Marine One, dia membenarkan akan melakukan tindakan balasan pada ekspor wine Prancis jika Presiden Emmanuel Macron tidak mencabut pengenaan pajak baru yang akan memberatkan perusahaan-perusahaan teknologi AS seperti Google.

"Kami akan memajaki wine mereka seperti yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya," ujarnya.

Para pemimpin G7 lainnya -- dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang -- menunggu kedatangan Trump dengan sikap khawatir yang beragam.

Macron bahkan telah memutuskan bahwa untuk pertama kalinya KTT G7 tidak akan mengeluarkan pernyataan bersama usai pertemuan, karena tajamnya perbedaan.

Dalam KTT tahun lalu di Kanada, Trump menolak tanda tangan pernyataan karena marah pada Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

Ekonomi Dunia Dipertaruhkan?
Para pemimpin G7 lainnya sudah mengingatkan dampak dari makin panasnya perang dagang AS-Tiongkok.

Namun Trump, dengan penuh nafsu seperti biasanya, menetapkan tarif tinggi atas produk-produk Tiongkok Jumat lalu setelah Beijing juga menerapkan tarif baru atas produk-produk AS.

Trump mengatakan dia sendirian bisa mengatasi Tiongkok setelah puluhan tahun terjadinya pencurian hak cipta intelektual dan praktik-praktik dagang tidak adil dari Tiongkok.

Dia menyebut upaya itu sebagai "pertengkaran kecil".

Di forum G7, dia diduga akan mencari sekutu, tetapi para pemimpin lainnya merasa skeptis kalau perang yang dilancarkan Trump ini bisa sukses -- atau apakah justru akan membawa perekonomian dunia makin melambat.

Agenda kerja pertama hari Minggu ini menuruti permintaan "last minute" Gedung Putih untuk dimasukkan agenda: pertemuan membahas pertumbuhan ekonomi.

Trump akan meminta para mitranya "untuk menuliskan aturan abad ini, berlawanan dengan praktik-praktik dagang tidak adil yang berasal dari Tiongkok", menurut seorang pejabat senior AS.

Trump juga mendesak negara-negara Eropa, Kanada, dan Jepang untuk membawa perekonomian mereka sejalan dengan AS.

"Anda akan melihat presiden terlibat dalam percakapan yang jujur," kata pejabat tersebut.

6+1
Terlepas dari itu semua, Trump mengatakan kunjungannya akan sangat produktif.

Namun muncul pertanyaan tentang masa depan G7 karena pendekatan nasionalis Trump membuat kelompok itu lebih pantas disebut 6+1.

G7 biasanya adalah forum yang hangat dan santai, sehingga para pemimpin negara-negara demokratis yang besar itu bisa rileks dan bicara terus terang membahas hal-hal yang menjadi kepentingan bersama.

Namun, rasa kebersamaan antara Trump dengan para sekutu terdekat AS itu makin berkurang.

Beberapa hari sebelumnya, Trump mengulangi usulannya untuk memformat ulang G8 dengan tambahan Rusia, yang dikeluarkan dari kelompok itu pada 2014 setelah Vladimir Putin melakukan invasi ke Crimea.

Para pemimpin G7 sudah menepis ajakan ini, tetapi Trump, yang akan menjadi tuan rumah G7 tahun depan, tidak mungkin menyerah begitu saja.

Isu panas lainnya adalah Brexit, keputusan oleh Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa yang kemudian menciptakan kekacauan.

Ini merupakan forum G7 pertama bagi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Johnson mungkin akan lebih kesulitan menghadapi Kanselir Jerman Angela Merkel dan Macron, tetapi sangat mungkin dia akan disambut hangat oleh Trump, yang mengatakan UE "tidak memperlakukan Inggris dengan baik".



Sumber: AFP