Istri Diejek, Presiden Macron Kecam Bolsonaro

Istri Diejek, Presiden Macron Kecam Bolsonaro
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kiri), Ibu Negara Prancis Brigette, dan Presiden Brasil Jair Bolsonaro. ( Foto: vaaju / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 27 Agustus 2019 | 20:47 WIB

Paris, Beritasatu.com – Ada-saja ulah Presiden Brasil Jair Bolsonaro. Alih-alih menaruh perhatian serius atas kebakaran hutan Amazon, dia malah mengomentari istri orang di media sosial. Reaksinya tentu tak lagi biasa. Pasalnya, wanita yang dikomentari Bolsonaro adalah Brigette, ibu negara Prancis.

“Wanita Brasil mungkin malu dengan Presiden Jair Bolsonaro,” sindir Prancis Emmanuel Macron pada Senin (26/8).

Reaksi Macron muncul setelah pemimpin Brasil itu mengejek istrinya, Brigitte, di Facebook.

Kedua pemimpin negara ini memang sudah bermusuhan dalam beberapa minggu terakhir. Macron telah menyalahkan Bolsonaro atas kebakaran di Amazon dan menuduhnya berbohong tentang kebijakan perubahan iklim.

Tapi komentar Bolsonaro pada Minggu dalam Facebook memang agak keterlaluan. Dia membandingkan penampilan istrinya Michelle yang berusia 37 tahun, dengan Brigitte yang berusia 66 tahun, istri Macron.

"Sekarang kamu mengerti mengapa Macron menganiaya Bolsonaro?" tulis seorang pendukung Bolsonaro menulis di sebelah gambar Brigitte.

"Jangan mempermalukan pria itu. hahahaha," ujar Bolsonaro menjawab, dalam komentar yang banyak dikritik sebagai ejekan seksis.

Ditanya tentang insiden itu pada konferensi pers di Biarritz pada Senin, saat para pemimpin G7 berkumpul untuk pertemuan puncak, Macron mengatakan komentar Bolsonaro itu "sangat kasar".

"Ini menyedihkan, pertama-tama sedih baginya dan bagi orang Brasil. Perempuan Brasil mungkin merasa malu dengan presiden mereka," kata Macron.

Usia Brigette yang kini mencapai 66 tahun dituding tidak menarik oleh pendukung Bolsonaro. Apalagi jika Brigette memang lebih tua 29 tahun dari istri Bolsonaro, Michelle.

"Karena saya memiliki banyak penghargaan dan rasa hormat terhadap rakyat Brazil, saya berharap mereka akan segera memiliki presiden yang siap untuk pekerjaan itu," tambah Macron.



Sumber: Suara Pembaruan