Hampir 4.000 Orang Ditahan Setelah Otonomi Kashmir Dicabut

Hampir 4.000 Orang Ditahan Setelah Otonomi Kashmir Dicabut
Foto selebaran ini dirilis Kepolisian Kathua pada Kamis 12 September 2019, menunjukkan Personel polisi Kathua berdiri di samping ketiga pria dengan wajah tertutup dan senjata serta amunisi setelah penangkapan mereka di Kathua. ( Foto: AFP / Kathua Police )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Jumat, 13 September 2019 | 20:53 WIB

New Delhi, Beritasatu.com- Otoritas di wilayah Kashmir yang dikuasai India telah menangkap hampir 4.000 orang sejak membatalkan status khusus negara bagian itu bulan lalu. Ini menjadi bukti paling jelas dari skala terbesar tindakan keras di kawasan itu.

Dari laporan pemerintah tanggal 6 September 2019 disebutkan 3.800 orang telah ditangkap, meskipun 2.600 orang diantaranya dilepaskan. Tidak jelas dasar penangkapan orang-orang itu, tapi pejabat India menyatakan mereka ditangkap berdasarkan Undang-undang Keselamatan Publik (PSA), yaitu hukum di Jammu dan Kashmir yang mengizinkan seseorang ditahan selama lebih dari dua tahun tanpa adanya tuduhan.

Pada Kamis (12/9), polisi India menangkap tiga orang tersangka dari organisasi militan Pakistan, telah ditangkap karena mengirimkan senjata dan amunisi ke wilayah Kashmir. Polisi mencegat para pria itu pada Kamis pagi dan menyita dari mereka senapan serbu AK-56, dua senapan AK-47s, enam majalah, dan 180 peluru.

“Truk itu datang dari negara bagian India, Punjab, dan dalam perjalanan ke Kashmir. Kami menyelidiki dari mana tepatnya mereka mengambil amunisi itu,” kata petugas polisi, Shridhar Patil.

Polisi menaytakan para pria itu, seluruhnya warga Kashmir, terafiliasi dengan kelompok milisi berbasis di Pakistan, Jaish-e-Mohammed, yang melakukan bom bunuh diri pada Februari 2019 di Kashmir dengan korban tewas 40 pasukan India.

Ketegangan meningkat di Kashmir sejak India mencabut otonomi negara bagian itu. Kashmir sendiri terbagi dua menjadi milik India dan Pakistan sejak 1947.

Pemerintah India langsung mematikan jaringan telepon dan internet, serta mengirimkan puluhan ribu tentara untuk mempertahankan perdamaian di sana. Tambahan tentara itu bergabung dengan hampr setengah juta pasukan yang sudah berada di wilayah yang paling sarat militer di dunia.



Sumber: Suara Pembaruan