Soal Dampak Serangan, Laporan Arab Saudi Belum Rinci

Soal Dampak Serangan, Laporan Arab Saudi Belum Rinci
Kilang minyak milik Arab Saudi terbakar setelah serangan pesawat nirawak pemberontak Houthi, Sabtu (14/9/2019) ( Foto: Skynews / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 17 September 2019 | 11:40 WIB

Riyadh, Beritasatu.com- Arab Saudi menyatakan, serangan pada Sabtu telah menghentikan produksi 5,7 juta barel minyak per hari. Saudi belum menjelaskan secara rinci tentang serangan itu, kecuali menyatakan tidak ada korban. Tetapi Saudi telah memberikan beberapa indikasi lagi tentang produksi minyak.

“Kerajaan bersedia dan mampu menghadapi dan menangani agresi teroris ini,” kata Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) kepada Presiden Donald Trump saat panggilan telepon pada Sabtu (14/9), menurut Badan Pers Saudi (SPA).

Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan sebagian dari penurunan produksi akan diatasi dengan memanfaatkan fasilitas penyimpanan besar.

Stok Saudi mencapai 188 juta barel pada Juni, menurut data resmi. Kerajaan saudi adalah pengekspor minyak terbesar di dunia, dan mengirimkan lebih dari 7 juta barel setiap hari.

Semua mata akan tertuju pada pasar ketika dibuka kembali pada Senin (16/9), saat para ahli memprediksi kenaikan harga yang signifikan. Diperkirakan, kekacauan ini akan membuat harga minyak naik US$ 5 hingga 10 per barel pada Senin karena ketegangan meningkat di Timur Tengah.

Serangan itu datang pada saat yang buruk bagi Arab Saudi, yang sedang mempersiapkan daftar raksasa minyak Saudi Aramco di bursa Tadawul di Riyadh akhir tahun ini.

Menurut konsultan risiko Eurasia Group, serangan-serangan itu tidak mungkin mengubah rencana penawaran umum perdana Aramco yang telah lama ditunggu-tunggu tetapi dapat memengaruhi penilaian.

“Serangan terbaru terhadap fasilitas Aramco hanya akan berdampak terbatas pada minat saham Aramco karena tahap pertama IPO akan bersifat lokal. Komponen penjualan internasional akan lebih sensitif terhadap risiko geopolitik, ”katanya.

Aramco telah merekrut sembilan bank sebagai koordinator global bersama untuk memimpin penjualan saham perdana (IPO) Aramco, yang dijadwalkan menjadi yang terbesar di dunia, menurut laporan Reuters, mengutip dua sumber.

 



Sumber: Suara Pembaruan