Jutaan Perempuan AS Mengaku Diperkosa Saat Remaja

Jutaan Perempuan AS Mengaku Diperkosa Saat Remaja
Beberapa perempuan bergabung dalam gerakan "Me Too" (Saya Juga) yang menuntut pemerintah, industri dan masyarakat mengatasi pelecehan seksual, di New York, beberapa waktu lalu. ( Foto: Istimewa )
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 17 September 2019 | 12:05 WIB

Massachusetts, Beritasatu.com - Hasil studi Fakultas Kedokteran Harvard yang dilakukan baru-baru ini menunjukan satu dari 16 perempuan (sekitar tiga juta) di Amerika Serikat (AS) mengaku pengalaman pertama seksual mereka dilakukan karena dipaksa atau diperkosa saat remaja.

Peneliti internis dari Fakultas Kedokteran Harvard, Laura Hawks, mengatakan hampir 7% perempuan yang disurvei mengaku pengalamanan hubungan seksual pertama mereka terjadi pada rata-rata usia 15 tahun, dan pria yang memaksakan hubungan seksual itu, berusia lebih tua.

Beberapa diantaranya mengaku mereka disekap, dipaksa secara fisik, dan lainnya mengatakan mereka secara verbal ditekan terus-menerus untuk melakukan hubungan seksual oleh pasangan mereka.

“Setiap hubungan seksual yang bertentangan dengan kehendak seseorang adalah pemerkosaan. Jika seorang ditekan secara verbal untuk berhubungan seks, itu sama halnya dengan pemerkosaan,” kata Peneliti internis dan peneliti Fakultas Kedokteran Harvard, Laura Hawks, dalam laporannya yang dikutip Al JAzeera, Senin (16/9/2019). 

Menurut dia, hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa pengalaman pertama hubungan seksual yang dilakukan karena paksaan atau perkosaan memiliki dampak kesehatan, baik secara fisik maupun mental, yang berbahaya untuk jangka panjang.

Pada tahun-tahun setelah dipaksa melakukan hubungan seksual, perempuan tersebut cenderung memiliki lebih banyak pasangan seks, mengalami kehamilan dan aborsi yang tidak diinginkan, dan lebih banyak masalah kesehatan reproduksi termasuk nyeri panggul dan ketidakaturan menstruasi, dibandingkan wanita yang pengalaman seksual pertamanya tidak dipaksakan.

Dari hasil studi, hampir 16% perempuan yang pengalaman seksual pertamanya dilakukan karena terpaksa, melaporkan kondisi kesehatan yang buruk, atau dua kali lipat dari wanita lain yang melakukan hubungan seksual tanpa paksaan.

Meskipun studi ini harus diuji lebih lanjut, Laura Hawks menilai, hubungan seksual yang dilakukan karena keterpaksaan berkontribusi pada masalah kesehatan fisik dan mental di kemudian hari, bahkan menyimpan efek trauma yang bertahan lama dan kadang tak disadari.

“Mengalami pemerkosaan pada pengalaman seksual pertama akan menghilangkan otononomi atas seksualitas seseorang. Tidak mengherankan jikan ini dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental juga efek trauma yang bertahan lama,” ujar Laura Hawks.

Studi lainnya menyebutkan bahwa efek jangka panjang dari hubungan seksual yang dilakukan karena paksaan atau perkosaan dapat menyebabkan seseorang mengalami isolasi sosial, perasaan tidak berdaya, stigmatisasi, citra diri yang buruk, bahkan perilaku menyimpang. Semua itu juga dapat meningkatkan risiko depresi dan masalah kesehatan mental lainya.

Terkait dengan hasil studi tersebut, Laura Hawks mengatakan, anak laki-laki harus diajarkan keterampilan komunikasi dan bagaimana menghargai pasangan mereka agar tidak memaksakan melakukan hubungan seksual baik secara verbal maupun fisik.

“Tanggung-jawab tidak seharusnya berada pada korban atau penyintas, tetapi harus ditanamkan pada kaum laki-laki agar mereka tidak melakukan pemaksaan dalam berhubungan seksual,” ujar Laura Hawks.

Memperkuat
Hasil penelitian Fakultas Kedokteran Harvard tersebut, memperkuat penelitian yang diterbitkan tahun lalu, yang juga menemukan gangguan psikologis dan kesehatan fisik yang lebih buruk di antara wanita yang melakukan hubungan seksual pertama kali karena dipaksa.

Studi yang dilakukan Fakultas Kedokteran Harvard baru-baru ini adalah analisis tanggapan dari 13.310 perempuan dewasa yang berpartisipasi dalam survei kesehatan pemerintah AS secara nasional dari 2011-2017, sebelum dipopulerkannya gerakan "Me Too", yang menuntut pemerintah, industri dan masyarakat mengatasi pelecehan seksual.

Para peneliti memfokuskan survei pada pertanyaan melalui wawancara langsung, apakah pengalaman hubungan seksual pertama responden perempuan dengan seorang pria bersifat sukarela atau tidak sukarela.

Pertanyaan yang diajukan yaitu, apakah Anda memilih untuk melakukan hubungan seks atas kehendak sendiri atau tidak?Hasilnya menunjukkan satu dari 16 perempuan AS melakukan hubungan seksual pertama karena dipaksa.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit federal, hampir satu dari lima perempuan telah diperkosa selama hidup mereka. Hampir setengah dari perempuan itu, itu mengalamikan ketika mereka berusia di bawah 18 tahun.

Penelitian tersebut, yang meminta wanita dari usia 18-44 untuk mengingat kembali pengalaman seksual pertama mereka, tidak menyajikan informasi tentang pria yang memaksakan hubungan seksual tersebut, apakah pacar, kerabat atau orang asing.

 



Sumber: Suara Pembaruan/Al Jazeera