Raja Saudi Klaim Mampu Hadapi Pelaku Serangan Kilang Minyak

Raja Saudi Klaim Mampu Hadapi Pelaku Serangan Kilang Minyak
Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman (tengah), tiba di Pantai Laut Merah, Jeddah, untuk konferensi pers, pada Selasa (17/9/2019). ( Foto: AFP )
Unggul Wirawan / JAI Rabu, 18 September 2019 | 15:27 WIB

Riyadh, Beritasatu.com - Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul-Aziz Al Saud (Raja Salman), mengatakan bahwa pemerintah Riyadh mampu menghadapi pelaku serangan kilang minyak Aramco, dan siap mengamankan tanah air dan rakyatnya.

Pernyataan itu, disampaikan Raja Salman, setelah pertemuan Dewan Menteri Arab Saudi, di Riyadh, Selasa (17/8/2019). Dalam pertemuan itu, Raja Salman meyakinkan kemampuan Arab Saudi untuk menghadapi konsekuensi dari serangan bom terhadap instalasi kilang minyak perusahaan Arab Saudi, Aramco, pada Sabtu (15/9/2019).

Dewan Menteri Arab Saudi menilai serangan tersebut tidak hanya mengancam fasilitas kilang minyak dan keamanan Arab Saudi, tetapi juga dapat mengancam ekonomi global. Serangan itu dikecam dan disebut sebagai tindakan “pengecut” dan merupakan serangan berulang yang menyasar instalasi vital kilang minyak Arab Saudi.

“Serangan itu telah mengancam kebebasan pengiriman, dan telah memengaruhi stabilitas pertumbuhan ekonomi global,” bunyi pernyataan Raja Salman, seperti dikutip media pemerintah, Selasa (17/9/2019).

Disebutkan, Kabinet Arab Saudi telah meninjau kerusakan yang disebabkan oleh serangan pada instalasi Aramco. Mereka menyerukan kepada pemerintah dunia untuk menghadapi pelakunya, "terlepas dari mana asal mereka".

Arab Saudi menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan dan tekad untuk mempertahankan tanah air dan rakyatnya, dan dengan tegas menanggapi agresi tersebut.

Pernyataan Arab Saudi juga menyebut serangan itu merupakan tindakan agresi dan sabotase yang belum pernah terjadi sebelumnya dan kejahatan mengerikan yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

Arab Saudi mengundang para pakar global untuk menyelidiki serangan atas kilang minyak Aramco. Wakil Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan pakar internasional dapat melihat situasi di lapangan dan untuk berpartisipasi dalam penyelidikan.

“Kerajaan akan mengambil tindakan yang sesuai berdasarkan hasil penyelidikan, untuk memastikan keamanan dan stabilitasnya,” bunyi pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Saudi.

Mengindikasikan

Arab Saudi menyatakan penyelidikan awal mengindikasikan bahwa senjata Iran digunakan dalam serangan terhadap instalasi minyak utama. Saudi dan Amerika Serikat (AS) telah menuding Iran berada dibalik serangan itu.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tak berkomentar soal tudingan Saudi dan AS. Sebaliknya, dia menyatakan akan mengakhiri semua spekulasi tentang pertemuan AS-Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), akhir September 2019.

“Tidak akan ada pembicaraan dengan AS di tingkat apa pun,” kata Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pernyataan itu, disampaikan Ayatollah Ali Khamenei terkait spekulasi tentang kemungkinan pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Iran, Hassan Rouhani, dalam Sidang Umum PBB, di New York, pada akhir September 2019.

Pada Selasa (17/9), televisi pemerintah Iran mengutip Khamenei yang mengatakan sikap itu adalah posisi seluruh kepemimpinan negara. Ditegaskan, semua pejabat di Republik Islam dengan suara bulat meyakini posisi tersebut.

Sumber : Al Jazeera/TRTWorld



Sumber: Suara Pembaruan