Pemilu Israel, Gantz Menang Tipis dari Netanyahu

Pemilu Israel, Gantz Menang Tipis dari Netanyahu
Dua kandidat Perdana Menteri Israel yang bersaing ketat dalam Pemilihan Umum, Benny Gantz (kiri) dan Benjamin Netanyahu. ( Foto: AFP / Emmanuel DUNAND dan Menahem KAHANA )
Jeanny Aipassa / JAI Kamis, 19 September 2019 | 14:40 WIB

Tel Aviv, Beritasatu.com - Hasil perhitungan suara Pemilihan Umum (Pemilu) Israel yang telah mencapai 95%, Rabu (18/9), menunjukkan kandidat Perdana Menteri Benny Gantz dari Partai Kahon Lavan menang tipis dari Benjamin Netanyahu yang didukung Partai Likud.

Dari jumlah suara yang telah dihitung, Partai Kahon Lahan meraih 33 kursi Knesset (Parlemen Israel), sedangkan Partai Likud meraih 32 kursi. Meskipun menang tipis, Gantz belum bisa membentuk pemerintahan baru karena jumlah kursi yang tidak mencapai mayoritas.

Meski demikian, jika hasil perhitungan suara tersebut bertahan hingga 100% suara, maka itu akan menjadi kemunduran besar bagi Netanyahu yang telah menjabat sebagai PM Israel selama empat periode.

Hasil yang menunjukkan tak ada partai yang memenangkan kursi mayoritas di Knesset juga akan memicu kemungkinan parlemen menggelar "penyatuan pemerintah" yang akan menggabungkan partai Netanyahu, Gantz, dan sejumlah partai lainnya dalam pemerintahan.

Menanggapi hasil perhitungan suara Pemilu Israel yang menunjukkan keunggulan partainya, Gantz, menyerukan "penyatuan pemerintah yang luas". Dia juga memperingatkan semua pihak untuk menunggu hasil perhitungan suara benar-benar selesai.

"Kami akan bertindak untuk membentuk penyatuan pemerintah secara luas yang akan mengekspresikan kehendak rakyat. Kami akan memulai negosiasi dan saya akan berbicara dengan semua pihak," kata Gantz.

Gantz diyakini akan mendapat dukungan dari Daftar Aliansi Gabungan Arab yang terdiri dari empat partai. Aliansi tersebut menjadi blok ketiga terbesar dalam parlemen Israel atau Knesset saat ini dengan menduduki 13 kursi. Sementara itu, total ada 11 partai yang duduk di parlemen.

"Era Netanyahu telah berakhir. Jika Gantz memanggil, kami harus memberitahunya terkait posisi kita untuk mendukungnya," kata Ahmed Tibi, salah satu pemimpin Daftar Aliansi Gabungan Arab itu.

Membatalkan

Kondisi Pemilu Israel yang menunjukkan kekalahan partainya, dilaporkan membuat Netanyahu membatalkan rencana berkunjung ke Amerika Serikat (AS) untuk mengikuti Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di New York, akhir pekan ini.

Pembatalan kunjungan Netanyahu tersebut, diungkapkan salah satu sumber kepada AFP. Netanyahu dikabarkan membatalkan kunjungan ke New York karena "situasi politik" di Israel, yang tidak menentu akibat hasil pemilu yang “deadlock”.

“Netanyahu membatalkan rencana menghadiri Sidang Majelis Umum PBB karena khawatir dengan hasil penghitungan suara Pemilu Israel yang menunjukkan Partai Likud kalah tipis dari Koalisi Biru dan Putih yang dipimpin Benny Gantz,” ujar sumber tersebut.

Lebih dari empat juta warga telah memberikan hak suara 11.000 tempat pemungutan suara (TPS), dalam Pemilu Israel yang berlangsung pada Selasa (17/9). Angka tersebut lebih tinggi dari partisipasi pemilih pada Pemilu Israel, April 2019.

Knesset terdiri dari 120 kursi. Dengan demikian untuk meraih suara mayoritas, partai harus mendapat minimal 61 kursi baik secara mandiri atau membentuk koalisi.

Partai Likud dikabarkan akan berkoalisi dengan Partai Yisrael Beiteinu yang meraih 9 kursi Knesset. Namun koalisi tersebut akan kalah dari Partai Kahon Lavan yang dikabarkan mendapat dukungan dari Aliansi Gabungan Arab yang memiliki 13 kursi Knesset.

Baik Netanyahu maupun Gantz, harus mendekati partai-partai lain yang memiliki kursi di Knesset untuk membentuk pemerintahan mayoritas.

Sumber : AFP/The Guardian



Sumber: Suara Pembaruan