WNI Bawa Sabu-sabu di Filipina Bisa Terancam Hukuman Maksimal Seumur Hidup

WNI Bawa Sabu-sabu di Filipina Bisa Terancam Hukuman Maksimal Seumur Hidup
Warga negara Indonesia (WNI) berinisial AA ditangkap aparat Filipina karena membawa 8 kg sabu-sabu di Manila, Senin (7/10/2019). ( Foto: Bea Cukai Filipina / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Kamis, 10 Oktober 2019 | 06:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Filipina memastikan akan memberikan pendampingan hukum kepada warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap karena membawa sabu-sabu di Manila. Berdasarkan hukum setempat, WNI berinisial AA itu terancam hukuman maksimal seumur hidup.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Yudha Nugraha, di Jakarta, Rabu (9/10). Yudha mengatakan pihak KBRI telah mendapatkan akses kekonsuleran dan menemui yang bersangkutan pada malam hari saat penangkapan terjadi.

“Seorang perempuan WNI dengan inisial AA telah ditangkap oleh Philippine Drugs Enforcement Agency (PDEA) tanggal 7 Oktober 2019 dini hari sekitar pukul 4,” kata Yudha.

“Yang bersangkutan membawa metaphetamine hidrochlorine atau shabu seberat 8 kilogram dengan nilai Rp 15,2 miliar,” tambahnya.

Menurut Yudha, KBRI Manila segera meminta akses kekonsuleran saat menerima informasi tersebut. KBRI langsung mendapatkan akses pada malam harinya sekitar pukul 19.30 waktu setempat.

“KBRI Manila bisa bertemu yang bersangkutan dan dalam kondisi baik,” katanya.

Yudha menjelaskan AA datang dari Kamboja dan tiba di bandara Filipina. Namun, dia tidak merinci kronologis lebih detil karena kasusnya masih dalam penyelidikan otoritas setempat.

“Di Manila, pengedaran narkotika mendapat ancaman penjara seumur hidup,” ujarnya.

Terkait pendampingan hukum, Yudha mengatakan KBRI masih menunggu apakah AA menunjuk pengacara sendiri atau meminta bantuan pengacara dari KBRI.

“KBRI akan melakukan pendampingan untuk memastikan hak-hak yang bersangkutan terpenuhi sesuai hukum setempat,” kata Yudha.

Sejak menjabat sebagai presiden sejak Juni 2016, Duterte genccar melakukan perang melawan narkoba. Jumlah korban tewas atas insiatifnya tersebut diperkirakan lebih dari 5.300 orang yang terduga sebagai pengedar dan pemakai narkoba. Namun, kelompok-kelompok HAM menyebut jumlah kematian sebenarnya setidaknya tiga kali lebih tinggi.



Sumber: Suara Pembaruan