IMF: Semua Kalah dalam Perang Dagang

IMF: Semua Kalah dalam Perang Dagang
Direktur Pelaksana International Monetery Fund (IMF), Kristalina Georgieva, berpidato di pembukaan World Economic Forum, di kantor pusat IMF, Washington DC, Amerika Serikat, pada 8 Oktober 2019. ( Foto: AFP )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 10 Oktober 2019 | 13:47 WIB

Washington, Beritasatu.com - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetery Fund/IMF), Kristalina Georgieva, mengatakan semua pihak kalah dalam perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, yang telah berlangsung selama 18 bulan terakhir.

Pernyataan itu, disampaikan Georgieva dalam pidato pembukaan World Economic Forum (WEF) yang berlangsung di Washington, AS, Rabu (9/10/2019). Forum tersebut menyoroti bahaya yang ditimbulkan oleh perang dagang terhadap ekonomi global.

Menurut Georgieva, perang dagang AS dan Tiongkok telah menyebabkan ekonomi global melambat, dan menambah beban biaya sekitar US$ 700 miliar atau sekitar Rp 9.907 triliun, atau 0,8% dari produk domestik bruto (PDB) global.

“Bahkan jika pertumbuhan ekonomi meningkap pada 2020, perpecahan saat ini dapat menyebabkan perubahan yang bertahan satu generasi, memutus rantai pasokan, dan membungkam sektor perdagangan. Hasilnya jelas. Semua orang kalah dalam perang dagang,” kata Georgieva.

Menurut penelitian dari National Foundation for American Policy, pada akhir 2019, beban konsumen Amerika akibat kenaikan tarif yang diberlakukan AS dan Tiongkok, mencapai US$ 167,7 miliar atau sekitar Rp 2.373 triliun.

Jika semua produk yang terancam kenaikan tarif impor oleh administrasi Presiden Donald Trump diberlakukan, dan dikombinasikan dengan tarif saat ini, maka biaya tahunan untuk konsumen AS akan menjadi US$ 461,1 miliar atau sekitar Rp 6.525 triliun.

Untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan perang dagang antara AS-Tiongkok, Georgieva mengatakan, perlu ada perbaikan yang dilakukan untuk sistem perdagangan global, termasuk tentang pencurian kekayaan intelektual.

“Ada keraguan yang sah dengan sistem perdagangan global termasuk pencurian kekayaan intelektual yang perlu diperbaiki. Kuncinya adalah memperbaiki sistem, bukan meninggalkannya,” ujar Georgieva.

Sumber : Fox News/CCN



Sumber: Suara Pembaruan