Dikritik, Turki Ancam Kirim Jutaan Pengungsi ke Eropa

Dikritik, Turki Ancam Kirim Jutaan Pengungsi ke Eropa
Pegawai pemerintah mengalami luka-luka dan ditolong oleh rekannya, setelah serangan mortir di Taman Gedung Pemerintah Turki, di Kota Akcakale, perbatasan Turki-Surah, pada Kamis (10/10/2019). ( Foto: AFP / Bulent Kilic )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Jumat, 11 Oktober 2019 | 14:30 WIB

Ankara, Beritasatu.com - Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengancam akan mengirimkan jutaan pengungsi, jika Eropa mengkritik serangan militer yang diluncurkan Turki ke Suriah baru-baru ini.

Pernyataan itu, disampaikan Recep Tayyip Erdogan, karena keberatan dengan tudingan Eropa bahwa Turki melakukan invasi terhadap Suriah.

Pada Kamis (10/10/2019), Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, mengatakan Ankara harus menghentikan operasi militer yang sedang berlangsung di timur laut Suriah.

Jean-Claude Juncker mengatakan serangan itu tidak berhasil dan Turki seharusnya tidak mengharapkan bantuan Eropa dengan menciptakan yang disebut “zona aman”.

“Hei Uni Eropa, bangun. Saya katakan sekali lagi, jika kalian mencoba membingkai operasi kami di sana sebagai invasi, tugas kami sederhana, kami akan membuka pintu dan mengirimkan 3,6 juta migran kepadamu,” kata Recep Tayyip Erdogan, dalam pidatonya kepada anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), di Ankara, Turki, Kamis (10/10/2019).

Serangan Turki ke Suriah yang diberi nama “Operasi Perdamaian Musim Semi” telah berlangsung sejak Rabu (9/10) untuk menciptakan “zona aman” di sisi perbatasan Suriah.

Operasi itu melibatkan serangan udara dan tembakan artileri untuk menargetkan pasukan Kurdi yang didukung Amerika Serikat (AS). Pasukan Turki mengklaim telah menewaskan 109 militan Kurdi, yang dianggapnya teroris, sejak dimulainya operasi.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump, menyampaikan pengumuman mengejutkan, yaitu menarik pasukan AS dari wilayah Suriah yang berhasil direbut kembali lewat perang berdarah antara koalisi pimpinan AS dan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Tindakan itu dinilai pengkhianatan Trump kepada pasukan Kurdi selaku sekutunya. Pada Rabu malam, Donald Trump membela keputusannya untuk mengizinkan serangan Turki, menyebut bahwa Kurdi tidak membantu AS selama Perang Dunia II.

Pertempuran darat sejak 2014 melawan kelompok ekstrimis dipelopori oleh pasukan Kurdi yang menjadi bagian terbesar dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Organisasi yang mendapat dukungan AS itu saat ini ditugaskan melakukan tata kelola wilayah dan melakukan penahanan ekstrimis ISIS yang bangkit kembali dan mengurus penjara ISIS yang penuh sesak.

Sebaliknya, Turki menolak membantu pasukan Kurdi karen a mengangkap kelompok itu sebagai organisasi teroris karena terkait dengan separatis Kurdi di negaranya.



Sumber: Suara Pembaruan