Capres Partai Demokrat, Sanders dan Warren Bersaing Ketat

Capres Partai Demokrat, Sanders dan Warren Bersaing Ketat
Calon presiden (capres) dari Partai Demokrat, Bernie Sanders (kiri), Joe Biden (tengah), dan Elizabeth Warren (kanan), berdiri di podium untuk debat publik keempat, di Ohio, 15 Oktober 2019. (Foto: AFP / SAUL LOEB)
Jeany Aipassa / JAI Rabu, 30 Oktober 2019 | 16:26 WIB

Washington, Beritasatu.com - Senator Bernie Sanders dari Vermont dan Senator Elizabeth Warren dari Massachusetts, bersaing ketat di posisi teratas calon presiden (capres) Partai Demokrat. Keduanya diperkirakan memimpin dukungan suara dalam pemilihan capres Partai Demokrat di sejumlah negara bagian utama.

Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan di New Hampshire, Bernie Sanders menempati posisi pertama dengan meraih 21% suara pemilih, diikuti Elizabeth Warren yang meraih 18% suara. Keduanya berhasil mengungguli Mantan Wakil Presiden, Joe Biden, yang hanya meraih 15% suara.

Di tempat keempat, walikota Pete Buttigieg yang juga masuk bursa capres Partai Demokrat meraih 10% suara, disusul tiga kandidat lainnya yang mendapat masing-masing 5% suara, yakni Tulsi Gabbard, Amy Klobuchar dan pengusaha Andrew Yang.

“Yang mengejutkan, Senator Kamala Harris dari California yang semula mendapar dukungan suara sebanyak 9% dalam jajak pendapat New Hampshire pada Juli 2019, sekarang hanya meraih 3% suara,” bunyi hasil jajak pendapat terbaru yang dilakukan CNN dengan University of New Hampshire, yang dipublikasikan Selasa (29/10).

Jajak pendapat tersebut juga menunjukkan Joe Biden telah kehilangan dukungan di New Hampshire yang menjadi salah satu negara bagian utama dalam pemilihan presiden bagi Partai Demokrat. Sebelumnya pada Juli 2019, Joe Biden meraih 24% suara, namun dalam jajak pendapat pada Oktober 2019, turun 9 poin ke posisi 15%.

Penurunan peringkat Joe Biden adalah perubahan utama, bagi posisi puncak capres Partai Demokrat. Joe Biden yang selama ini menduduki posisi pertama, perlahan tersingkir oleh Bernie Sanders dan Elizabeth Warren. Baik Bernie Sanders dan Elizabeth Warren bertahan kira-kira stabil dibandingkan dengan hasil Juli mereka.

Sebagian pengamat menilai penurunan dukungan terhadap Biden kemungkinan dipengaruhi skandal telepon Presiden Donald Trump dan Presiden Ukraina, Volodymir Zelenskiy, yang meminta penyelidikan terhadap Hunter Biden, putra dari Joe Biden.

Keunggulan

Meski menunjukkan penurunan, jajak pendapat menunjukkan, Joe Biden tetap memiliki keunggulan di kalangan pemilih yang lebih tua, dengan 22% dari mereka yang berusia 50 tahun ke atas mendukung Joe Biden, 17% Elizabeth Warren, dan 11% Bernie Sanders.

Joe Biden terus dipandang sebagai kandidat Demokrat dengan peluang terbaik untuk menang dalam pemilihan umum, dimana 36% responden memilihnya jauh di depan semua kandidat lainnya. Tetapi Elizabeth Warren telah mendapatkan dukungan signifikan, naik dari 9% dari Julio 2019 menjadi 18% pada Oktober 2019.

Joe Biden juga dinilai menilai lebih baik di antara pemilih primer yang moderat dan konservatif daripada di kalangan liberal. Joe Biden mendapat 20% dukungan, diikuti 17% untuk Bernie Sanders dan 10% masing-masing untuk Elizabeth Warren dan Pete Buttigieg.

Elizabeth Warren dan Bernie Sanders adalah pilihan utama pemilih liberal, dimana 28% mendukung Elizabeth Warren dan 26% Bernie Sanders, dua digit di depan Joe Biden dengan 9% dan Pete Buttigieg di 8%. Bernie Sanders mendominasi kontes di antara pemilih yang lebih muda (di bawah usia 50 tahun) dengan meraih dukungan 31%.

Elizabeth Warren memegang keunggulan di antara lulusan perguruan tinggi dimana 23% mendukungnya, 16% Bernie Sanders, 14% Joe Biden, dan 13% Pete Buttigieg. Angka tersebut hampir sama untuk kategori pemilih perempuan, dimana Warren didukung 21% dan Sanders 19%.

Dari jajak perndapat tersebut juga diketahui bahwa untuk 105 hari tersisa hingga pemilihan primer, hanya 23% dari pemilih utama Demokrat yang telah memutuskan siapa yang akan didukung.

Jajak pendapat tersebut, merupakan salah satu yang digunakan oleh DNC untuk menentukan kandidat mana yang memenuhi syarat untuk debat mendatang pada November dan Desember 2019.

 



Sumber: Suara Pembaruan