Cile Batal Jadi Tuan Rumah KTT APEC

Cile Batal Jadi Tuan Rumah KTT APEC
Sebastian Pinera (Foto: AFP / Pedro Lopez)
Natasia Christy Wahyuni / JAI Kamis, 31 Oktober 2019 | 15:11 WIB

Santiago, Beritasatu.com - Cile batal menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan dua acara internasional, yaitu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 2019 dan KTT Perubahan Iklim ke-25 (COP25), pada November dan Desember 2019.

Presiden Cile, Sebastian Pinera, menyampaikan pengumuman pembatalan itu, pada Rabu (30/10) pagi. Dia, menyebut bahwa Cile tidak bisa menjadi tuan rumah KTT APEC 2019 dan KTT COP25, karena pemerintahannya gagal meredakan aksi protes yang telah berlangsung selama beberapa minggu.

“Ini merupakan keputusan sangat sulit, yang menyebabkan derita besar bagi kami, karena kami memahami sepernuhnya pentingnya (acara ini) untuk Chili dan dunia,” kata Sebastian Pinera, dalam pengumuman di Santiago, Rabu (30/10).

KTT APEC awalnya akan digelar pada 16-17 November 2019 di Chili, sedangkan KTT Perubahan Iklim akan digelar pada Desember 2019. Pinera menyalahkan situasi sulit yang dihadapi Cile, serta menyebut perhatian utama pemerintahannya saat ini adalah memulihkan sepenuhnya ketertiban publik, keamanan, dan perdamaian sosial.

“Saat seorang ayah mempunyai masalah, dia harus selalu menempatkan keluarga di atas segalanya. Serupa dengan itu, presiden harus selalu menempatkan warganya di atas pertimbangan lainnya,” ujar Sebastian Pinera.

Para pemimpin dunia termasuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, telah menyatakan kehadiran mereka dalam KTT APEC 2019. Sedangkan, aktivis remaja Greta Thunberg juga awalnya akan hadir dalam KTT Perubahan Iklim.

Aksi kekerasan di Cile telah menyebabkan ribuan penangkapan dan setidaknya 20 orang tewas. Berdasarkan Institut Hak Asasi Manusia Cile, 3.535 orang telah ditangkap sejak 17 Oktober 2019 dan 1.132 orang telah dibawa ke rumah sakit termasuk 38 diantaranya mengalami luka tembak.

Pada 18 Oktober 2019, Pinera mengumumkan keadaan darurat setelah kekerasan terjadi di jalanan ibu kota Santiago, setelah negara itu mengumumkan perang dengan “kenakalan jahat”.

Aksi protes di Cile dimulai sejak pertengahan Oktober 2019 yang dipimpin oleh para pelajar karena menentang kenaikan ongkos kereta api sebesar 3,7%. Tapi, demonstrasi itu secara cepat berubah menjadi pemberontakan yang luas melawan ketidaksetaraan, biaya hidup, dan tekanan dari polisi.

Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB, Patricia Espinosa, mengatakan pihaknya sedang mempertimbangkan tuan rumah alternatif untuk pelaksanaan KTT iklim setelah menerima informasi dari Cile.

 



Sumber: Suara Pembaruan