Tolak Iklan Politik, Petinggi Facebook dan Twitter Bersitegang

Tolak Iklan Politik, Petinggi Facebook dan Twitter Bersitegang
CEO Facebook Mark Zuckerberg (Foto: AFP / JOSH EDELSON)
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 31 Oktober 2019 | 15:34 WIB

New York, Beritasatu.com - Petinggi jaringan media sosial (medsos), Facebook dan Twitter, dikabarkan bersitegang terkait keputusan Twitter untuk menolak iklan politik. 

Keputusan CEO Twitter, Jack Dorsey, yang diumumkan pada Rabu (30/10/2019), membuat dia berselisih dengan eksekutif senior Facebook, termasuk Mark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg. Mark Zuckerberg disebut menjadi salah satu petinggi Facebook yang gigih mempertahankan kebijakan Facebook untuk tidak memeriksa iklan politik.

Pada Rabu (30/10/2010), beberapa saat setelah pengumuman Jack Dorsey, Mark Zuckerberg menegaskan kembali pendiriannya terkait iklan politik.

Meski tidak secara langsung menyindir Jack Dorsey, Mark Zuckerberg mengungkapkan keputusan untuk menolak iklan politik harus dilakukan dengan hati-hati.

“Kita harus berhati-hati dalam mengadopsi semakin banyak aturan seputar pidato politik. Dalam sebuah demokrasi, saya pikir tidak tepat bagi perusahaan swasta untuk menyensor politisi atau berita," kata Mark Zuckerberg.

Hingga saat ini, lanjut Mark Zuckerberg, Facebook masih terus mengevaluasi apakah menguntungkan untuk mengizinkan iklan politik tetap dipasang di Facebook, tetapi sejauh ini ia telah menyimpulkan bahwa mengizinkan iklan politik adalah pilihan yang lebih baik.

Mark Zuckerberg bahkan mengatakan bahwa data pendapatan kuartal ketiga Facebook dari iklan yang antara lain dikontribusi oleh iklan politik. Diperkirakan iklan politik akan menyumbang kurang dari 0,5% dari pendapatan Facebook tahun depan. Pendapatan iklan triwulanan 2019 Facebook, dilaporkan sebesar US$ 17,38 miliar, naik 28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Awal Oktober 2019, Mark Zuckerberg menghadiri audiensi siswa di Washington DC untuk membela keputusan perusahaannya tidak melarang iklan politik yang mengandung kepalsuan.

Mark Zuckerberg telah mempertimbangkan untuk melarang semua iklan politik di platform-nya, tetapi mengatakan dia yakin langkah itu akan menguntungkan politisi yang berkuasa dan siapa pun media yang memilih untuk meliput.

Seperti diketahui, CEO Twitter, Jack Dorsey, Rabu (30/10/2019), mengumumkan jaringan media sosial (medsos) itu menolak semua iklan politik secara global. Larangan terhadap seluruh iklan politik di Twitter akan diberlakukan mulai 22 November 2019, dengan rincian lengkap akan dirilis pada 15 November 2019.



Sumber: Suara Pembaruan